Author Topic: Bagi arsitek Indonesia di luar negeri  (Read 21864 times)

novriko

  • Forum Administrator
  • Sr. Member
  • *****
  • Posts: 335
  • Karma: +3/-0
  • Admin Web
Bagi arsitek Indonesia di luar negeri
« on: April 26, 2009, 10:26:03 pm »
Ada banyak arsitek Indonesia yang bekerja di luar negeri sebagai konsultan perencana. Dan tidak sedikit yang berkeinginan untuk menjadi anggota IAI, dan sering melontarkan pertanyaan tentang bagaimana caranya.

Terus terang sampai saat ini, IAI belum mempunyai pranata khusus yang mengatur tentang pelantikan yang dilakukan di luar negeri, karena IAI belum memiliki perwakilan di luar negeri. IAI sedang menjajaki kemungkinan untuk membuka komisariat IAI di beberapa negara yang telah mengajukan permintaan khusus agar didirikan perwakilan IAI di sana. Tetapi sebelum hal itu benar-benar terlaksana, maka arsitek-arsitek tersebut HANYA BISA dilantik di Indonesia.

Mengapa harus demikian?
Yang penting dalam inaugurasi tersebut, BUKAN pelantikannya, tetapi PENATARAN KODE ETIK ARSITEK DAN KAIDAH TATA LAKU PROFESI ARSITEK yang dilaksanakan sebelum acara pelantikan.
Para calon anggota IAI harus benar-benar mengetahui dan mendalami dulu bahwa IAI sangat menjunjung tinggi nilai-nilai etika keprofesian, karena tanpa hal itu maka tidak akan ada pengertian dasar bahwa profesi arsitek itu mempunyai tanggung jawab moral yang tinggi terhadap pengguna jasanya.

Beberapa negara yang memperbolehkan arsitek asing untuk mengambil keanggotaan asosiasi arsitek di negaranya, cenderung mendorong para calon tersebut untuk menjadi anggota keprofesian di negara asalnya dahulu sebelum mengajukan diri, karena hal tersebut justru menunjukkan bahwa para calon tersebut telah terikat KODE ETIK keprofesian di negaranya.

Jika suatu saat ada perwakilan IAI di sebuah negara lain di luar RI, maka Penataran KODE ETIK dan Pelantikan Anggota Baru bisa dilaksanakan secara mandiri di negara tersebut (tentu saja setelah memenuhi persyaratan administratif organisasi).

Semoga maklum.
« Last Edit: April 26, 2009, 11:20:31 pm by novriko »
Jenius adalah 1 % inspirasi dan 99 % keringat. Thomas A. Edison
Forum khusus pengurus | Alamat Sekretariat IAI

Rizky Eka Putra

  • Newbie
  • *
  • Posts: 5
  • Karma: +0/-0
Re: Bagi arsitek Indonesia di luar negeri
« Reply #1 on: April 28, 2009, 08:22:45 pm »
Saya rasa kurang menjawab pertanyaan saya.
Karena sudah jelas yg diluar negri tidak dapat dgn mudah pulang ke indonesia
buat penataran tersebut, selain waktu juga biaya yg belom tentu murah buat balik ke
Indonesia.

Apa tidak bisa disediakan solusi yg lebih baik dari IAI mengenai ini? Bisakan
dengan penataran di dunia maya (YM, skype,email,dll.)? Terbukti ada kuliah
dengan sistem ini. Atau memang mesti langsung?

Kalo jawabannya HANYA BISA DILANTIK DI INDONESIA, sangat sayang akan banyak yg
tidak jd mengambil keanggotaan tersebut. Mohon perhatiannya dari pengurus IAI.

Terima Kasih

Rizky Eka Putra

PS:semoga tidak hanya jadi catatan.

novriko

  • Forum Administrator
  • Sr. Member
  • *****
  • Posts: 335
  • Karma: +3/-0
  • Admin Web
Re: Bagi arsitek Indonesia di luar negeri
« Reply #2 on: April 28, 2009, 11:50:27 pm »
Memecahkan masalah yang besar akan lebih mudah dengan memecahkannya menjadi kecil-kecil.

1. Mas Rizky ada di negara mana?
2. Jika pernah ada pengalaman tele-conference, menggunakan sistem apa?
3. Bagaimana sistem attendance control yang pernah digunakan?
4. Apakah ada sistem diskusi kelompok dalam tele-conference?

Kami tidak mempunyai pengalaman ini. Jika ada yang bisa memberitahukan jalannya secara rinci, mungkin bisa kami bangun sistemnya.

Salam.
Jenius adalah 1 % inspirasi dan 99 % keringat. Thomas A. Edison
Forum khusus pengurus | Alamat Sekretariat IAI

novriko

  • Forum Administrator
  • Sr. Member
  • *****
  • Posts: 335
  • Karma: +3/-0
  • Admin Web
Re: Bagi arsitek Indonesia di luar negeri
« Reply #3 on: April 29, 2009, 12:21:14 am »
Menarik, saya baru saja dapat msg di mailbox facebook saya.
Mungkin ini bisa menjadi contoh.

Quote
AIA National Convention Goes Virtual
To members of The American Institute of Architects
 
We all know that times are tough. And, as a result, many will not be able to attend the AIA National Convention this week in San Francisco. So if you can't come to us, we'll bring the convention to your computer. Experience the AIA Virtual Convention.

With just a few clicks, you can take advantage of an array of online features—visit more than 50 exhibit booths, chat with your colleagues in the networking lounge, send them a note in the communications center, and watch live presentations in the auditorium. You’ll have access to all these features around the clock, starting April 30.

Registration for the AIA Virtual Convention is free. To register, go to http://tiny.cc/gqsa8
Jenius adalah 1 % inspirasi dan 99 % keringat. Thomas A. Edison
Forum khusus pengurus | Alamat Sekretariat IAI

Rizky Eka Putra

  • Newbie
  • *
  • Posts: 5
  • Karma: +0/-0
Re: Bagi arsitek Indonesia di luar negeri
« Reply #4 on: April 29, 2009, 03:58:30 pm »
Memecahkan masalah yang besar akan lebih mudah dengan memecahkannya menjadi kecil-kecil.

1. Mas Rizky ada di negara mana?
2. Jika pernah ada pengalaman tele-conference, menggunakan sistem apa?
3. Bagaimana sistem attendance control yang pernah digunakan?
4. Apakah ada sistem diskusi kelompok dalam tele-conference?

Kami tidak mempunyai pengalaman ini. Jika ada yang bisa memberitahukan jalannya secara rinci, mungkin bisa kami bangun sistemnya.

Salam.

1. Sekarang ada di Oman.
2. Disini memang di block untuk skype n voip. Tp pernah mengunakan skype n ym
3.kalau untuk kuliah kurang mengerti, cuman yang saya tau universitas terbuka dijakarta menggunakan sistem ini. bagaimana caranya saya tidak mengetahui dengan detail.
4.diskusi kelompok bisa saja menggunakan chat room secara groups. Saya rasa hampir semua yg menggunakan YM pernah mencoba chat secara groups.bukan yg sulit dan bisa dilakukan kapan aja(program yg bisa juga ditanamkan ke HP)

Thanks.


SAM

  • Forum Administrator
  • Newbie
  • *****
  • Posts: 12
  • Karma: +0/-0
Re: Bagi arsitek Indonesia di luar negeri
« Reply #5 on: May 01, 2009, 10:45:57 pm »
Ini bisa di pakai untuk maksud diatas: http://www.brighttalk.com (cuma satu contoh diantara banyak sekali fasilitas)

Pernyataan pertama "Ada banyak arsitek Indonesia yang bekerja di luar negeri sebagai konsultan perencana" di subject ini sudah merupakan pernyataan bahwa mereka sudah mendapat "knowledge" tsb. (imposible menjadi "konsultan perencana di luar negeri" tanpa melewati seribu satu peraturan di negeri tsb termasuk "kode etik")
Yang menjadi masalah bukanlah masalah kode etik yang "harus" dijadikan knowledge arsitek Indonesia di luar negeri, tapi adakah prosedur yang disediakan oleh IAI untuk mendapatkan lisence atau keanggotaan IAI (dua2nya berbeda sekali di USA antara lisence dan anggota AIA) di luar negeri.
Kalau kami yang diluar negeri masih dirasa perlu untuk mengambil bagian untuk kemajuan negeri tercinta tentunya kami disediakan jalan untuk memberikan partisipasi kami. Kalau dirasa tidak diperlukan saya kira akan merugikan negeri kita dan menguntungkan negara2 lain tempat kami berdomisili.  semoga...

salam dari US
SAM
« Last Edit: May 01, 2009, 10:48:16 pm by SAM »

novriko

  • Forum Administrator
  • Sr. Member
  • *****
  • Posts: 335
  • Karma: +3/-0
  • Admin Web
Re: Bagi arsitek Indonesia di luar negeri
« Reply #6 on: May 02, 2009, 12:19:23 am »
Halo mas sam, welcome aboard...  ;D

Ini bisa di pakai untuk maksud diatas: http://www.brighttalk.com (cuma satu contoh diantara banyak sekali fasilitas)
Thx for the info. I'll dig in.

Pernyataan pertama "Ada banyak arsitek Indonesia yang bekerja di luar negeri sebagai konsultan perencana" di subject ini sudah merupakan pernyataan bahwa mereka sudah mendapat "knowledge" tsb. (imposible menjadi "konsultan perencana di luar negeri" tanpa melewati seribu satu peraturan di negeri tsb termasuk "kode etik")
Yang menjadi masalah bukanlah masalah kode etik yang "harus" dijadikan knowledge arsitek Indonesia di luar negeri, tapi adakah prosedur yang disediakan oleh IAI untuk mendapatkan lisence atau keanggotaan IAI (dua2nya berbeda sekali di USA antara lisence dan anggota AIA) di luar negeri.

Like I said previously...
Terus terang sampai saat ini, IAI belum mempunyai pranata khusus yang mengatur tentang pelantikan yang dilakukan di luar negeri, karena IAI belum memiliki perwakilan di luar negeri. IAI sedang menjajaki kemungkinan untuk membuka komisariat IAI di beberapa negara yang telah mengajukan permintaan khusus agar didirikan perwakilan IAI di sana.
Dengan adanya sebuah perwakilan, tentu saja akan ada orang-orang yang mau memikirkan bagaimana caranya mengkombinasikan aturan-aturan dari negara domisili dan asal, agar berlaku di kedua belah pihak.

Sekarang mari berpikir dari arah kami, para pengurus yang ada di Indonesia.
Jumlah Pengurus Inti Nasional adalah: 14 orang.
Empat Belas. Fourteen.

Masing-masing ketua bidang sekarang sedang berusaha merekrut lebih banyak anggotanya, kurang lebih 5 anggota di setiap bidangnya.
Jumlah Pengurus di 29 perwakilan dan daerah kurang lebih sama.
Jumlah anggota IAI yang harus dilayani lebih dari 5000 orang (aktif).
Jumlah lulusan sarjana arsitektur Indonesia yang tidak termasuk dalam IAI, hampir 1 juta.
Jumlah masyarakat Indonesia yang harus dibina, 250 juta.
Jumlah Arsitek Profesional Utama (equal to certified architect in other countries) kita? kurang dari 100 orang saja!
(don't make the comparison. even the UIA don't believe about our numbers => that's why IAI's subscription is actually away too much).
Iuran UIA seharusnya dibayar berdasarkan jumlah Arsitek Profesional Utama, tapi mereka tidak percaya dengan jumlah perbandingan2 itu.

Tenaga para pengurus sering habis.
Nafas kami ngos-ngosan.
Walaupun para pengurus tidak tidak gaji (saya selalu harus menyatakan ini, supaya semua orang sadar bahwa semua pengurus itu bekerja sukarela, dan IAI bukan sebuah perusahaan, serta tidak didanai oleh negara), kami berusaha keras untuk menyelesaikan rencana-rencana kami membangun profesi kita ini di tanah air menjadi lebih baik.
Tapi kembali, karena keterbatasan tenaga dan waktu, First Thing First.

Selagi kami harus mencari jalan keluar dari pertanyaan bagaimana caranya mempermudah para arsitek di luar negeri untuk menjadi anggota, dalam waktu yang sama kami juga harus mencari jawaban bagaimana agar para arsitek di dalam negeri dihormati di tanah airnya sendiri.
Jujur saja, hampir semua arsitek yang nyangkut di luar negeri, pasti akan merasa enggan kembali ke tanah air. Saya tidak perlu menjelaskan kenapa, bukan?

Kalau kami yang diluar negeri masih dirasa perlu untuk mengambil bagian untuk kemajuan negeri tercinta tentunya kami disediakan jalan untuk memberikan partisipasi kami. Kalau dirasa tidak diperlukan saya kira akan merugikan negeri kita dan menguntungkan negara2 lain tempat kami berdomisili.  semoga...

salam dari US
SAM
I guess you are not asking us to provide people like you a red carpet, aren't you?
Tidak perlu saya menjawab apakah Anda "masih dirasa perlu", karena saya yakin, Anda sendiri sudah tau jawabannya. Tinggal kapan Anda sanggup mengambil "keputusan yang berani" untuk berjalan di samping kami.

Sedikit sharing,
Sewaktu rakernas di ancol (akhir februari 2009), saya tanpa sengaja menguping perkataan dari salah seorang pengurus IAI daerah, "pengurus nasional terlalu ngurusin yang di luar negeri, padahal yang di dalam negeri aja belum bener." Saat itu topiknya membahas ASEAN MRA (Mutual Recognition Agreement), tentang ASEAN ARCHITECT, yang akan berlaku juga di Indonesia.

14++ orang ditarik kesana-kemari, bisa-bisa terbelah semua badan kami.

Yang hendak saya katakan di sini adalah DON'T WAIT. JUST DO SOMETHING. HELP US TO HELP YOU. (sounds familiar? :) )
This organization is not ours only, this is yours too, from the beginning.

Just trust me, although the weight is too much, we are moving forward... s l o w l y...
Jenius adalah 1 % inspirasi dan 99 % keringat. Thomas A. Edison
Forum khusus pengurus | Alamat Sekretariat IAI

SAM

  • Forum Administrator
  • Newbie
  • *****
  • Posts: 12
  • Karma: +0/-0
Re: Bagi arsitek Indonesia di luar negeri
« Reply #7 on: May 02, 2009, 12:47:03 am »
Thanks for the response Novriko (is that official response from IAI?)
BTW nobody asked for red carpet berhubung kami bukan celebrities yang selalu menuntut fasilitas.
Yang saya maksud kalau ada panduan untuk ke arah tujuan yg dimaksud diatas akan memudahkan siapa saja yang berminat untuk memulai menjembatani. Masalahnya buat kami yang diluar negeri merasa tidak mempunyai mandat apa2 untuk "keputusan yang berani" untuk berjalan di samping kami yang anda maksud untuk memulai sesuatu (siapa yang mau mengangkat diri menjadi wakil dari yang lainnya?). Lagi pula banyak dr kami yang tidak punya keanggotaan IAI jadi memang merasa diluar system (organisasi dan negara).
Mengenai "usaha", sudah ada beberapa teman di luar kerangka organisasi (lewat facebook dll) yang berusaha berdialog, entah apa lagi "the next step" yang di maksud.
Tapi memang saya mengerti kesibukan yang luar bisa dari pengurus dan minimnya jumlah pengurus, dan mengingat jumlah kami yang sedikit (dibawah 100 menurut anda). Maka pembicaraan ini mungkin bisa ditunda sampai kondisi memungkinkan........entah kapan.


novriko

  • Forum Administrator
  • Sr. Member
  • *****
  • Posts: 335
  • Karma: +3/-0
  • Admin Web
Re: Bagi arsitek Indonesia di luar negeri
« Reply #8 on: May 02, 2009, 01:17:31 am »
Thanks for the response Novriko (is that official response from IAI?)
Half.
1st half is the real situation.
2nd half is my own opinion (about why not you join us?).

... dan mengingat jumlah kami yang sedikit (dibawah 100 menurut anda). Maka pembicaraan ini mungkin bisa ditunda sampai kondisi memungkinkan........entah kapan.
Jumlah itu bukan tentang Anda, tetapi tentang Arsitek Profesional Utama yang dimiliki oleh IAI. Revisi: 160 orang.
http://www.lpjk.org/modules/daftar_registrasi_tenaga_ahli.php?&ID_Propinsi=&ID_Asosiasi_Profesi=27&ID_Sub_Bidang_Klasifikasi_Profesi=AA100&ID_Kualifikasi_Profesi=1

Yang saya maksud kalau ada panduan untuk ke arah tujuan yg dimaksud diatas akan memudahkan siapa saja yang berminat untuk memulai menjembatani.
My fault then. Saya melewatkan mempublikasikan 1 buah halaman di website: http://iai.or.id/index.php?id=87
EDIT: Berdasarkan pembicaraan saya dengan Pak Ketua Umum beberapa hari yang lalu saat membahas pengembangan sistem database global IAI, perwakilan IAI di negara lain dikategorikan sama dengan sistem "Daerah".

Mengenai "usaha", sudah ada beberapa teman di luar kerangka organisasi (lewat facebook dll) yang berusaha berdialog, entah apa lagi "the next step" yang di maksud.
Make it official.
« Last Edit: May 02, 2009, 01:20:59 am by novriko »
Jenius adalah 1 % inspirasi dan 99 % keringat. Thomas A. Edison
Forum khusus pengurus | Alamat Sekretariat IAI

Ariko Andikabina

  • Juru Parkir
  • Forum Administrator
  • Newbie
  • *****
  • Posts: 14
  • Karma: +0/-0
Re: Bagi arsitek Indonesia di luar negeri
« Reply #9 on: May 06, 2009, 08:54:44 pm »
Dalam perpetemuan beberapa hari yang lalu, dibicarakan pencarian solusi untuk rekan-rekan yang bekerja di luar negeri bisa menjadi anggota IAI.

Salah satunya adalah pelantikan dan penataran kode etik dapat dilangsungkan mengikuti kongres UIA dan ARCASIA yang dilangsungkan secara reguler. Selain pelantikan rekan-rekan juga dapat mengikuti rangkaian acara lainnya yang memiliki bobot juga besar.

Detailnya mungkin menanti pernyataan resmi dari PN IAI.

Rizky Eka Putra

  • Newbie
  • *
  • Posts: 5
  • Karma: +0/-0
Re: Bagi arsitek Indonesia di luar negeri
« Reply #10 on: May 08, 2009, 03:17:01 am »
Salah satunya adalah pelantikan dan penataran kode etik dapat dilangsungkan mengikuti kongres UIA dan ARCASIA yang dilangsungkan secara reguler. Selain pelantikan rekan-rekan juga dapat mengikuti rangkaian acara lainnya yang memiliki bobot juga besar.

Kongres UIA ini sendiri tidak disetiap negara bukan? dan mesti dihadiri jugakah(physically)? permasalahan disini sebenarnya adakah cara yg lebih mudah mengenai kehadiran fisik langsung diacara tersebut?

Sebenarnya hanya itu pertanyaan awal. karena waktu dan tempatnya yg tidak memungkinkan untuk pergi 1-3hari kluar dari negara tempat kita bekerja. Saya menanyakan ini, lebih karena memiliki keinginan untuk menjadi anggota IAI itu sendiri. Tapi kalau memang tidaka ada solusi masalah kehadiran, ya terpaksa niat ini diundur sampai waktu yg tidak terbatas (sampai kembali menetap di Indonesia)..

Saat ini sih solusi yg saya rasa mungkin dilakukan adalah penataran secara online. mungkin mengadaptasi perkuliahan online. tp sepertinya dari pihak pengurus masih merasa ini terlalu berat untuk dilaksanakan dikarenaka jumlah pengurus dan dananya. Cuman sedikit mengingatkan pengurus...kemudahan pendaftaran dan penataran, berbanding lurus dengan peningkatan jumlah anggota.




novriko

  • Forum Administrator
  • Sr. Member
  • *****
  • Posts: 335
  • Karma: +3/-0
  • Admin Web
Re: Bagi arsitek Indonesia di luar negeri
« Reply #11 on: May 08, 2009, 10:40:38 am »
Cuman sedikit mengingatkan pengurus...kemudahan pendaftaran dan penataran, berbanding lurus dengan peningkatan jumlah anggota.

Terima kasih atas masukannya.
Tetapi di sini tidak begitu. Peningkatan jumlah anggota berbanding lurus dengan seberapa pentingnya para "calon anggota" membutuhkan keanggotaan ini.
Di Indonesia, Sertifikasi (SKA) menjadi salah satu alasan.
Jika dibilang "kemudahan pendaftaran dan penataran", di Indonesia semua para lulusan arsitek bisa kapan saja mendaftar, tetapi nyatanya tidak.
Jenius adalah 1 % inspirasi dan 99 % keringat. Thomas A. Edison
Forum khusus pengurus | Alamat Sekretariat IAI

firman herwanto

  • Forum Administrator
  • Newbie
  • *****
  • Posts: 45
  • Karma: +0/-0
Re: Bagi arsitek Indonesia di luar negeri
« Reply #12 on: May 08, 2009, 08:11:58 pm »
Saya kutip psdkt dari kata2 mas Juhara berdasarkan pembicaraannya dg Pak Endy, tentang pertanyaan salah seorang anggota IAI di Spore yg ingin mengikuti pendidikan strata dan pengurusan SKA :

Quote
Skrg IAI nasional sdh mempunyai hubungan baik dg Deplu. Mereka bahkan menyediakan fasilitas kedutaan Indonesia utk wadah bertemu mereka. Jadi kita harap masalah ini bisa beres dalam waktu dekat...

Mengenai sistem semacam kuliah/penataran online pd prinsipnya sih sgt mungkin, namun terus terang kendala teknologi disini yg memberatkan kyknya. Saat ini aja utk menetapkan pembuatan website dan developingnya kt harus berhitung benar finansialnya, apalagi pengadaan sistem IT yg lbh mumpuni. Nah kalo sdh ada kerjasama dg kedubes RI, tentunya tinggal kt petakan kembali anggota2 kita yg ada di LN agar memudahkan organizing-nya di tempat yg relatif netral/dekat, krn blm tentu terdapat jumlah yg sama utk msg2 negara. Biayanya saat ini yg terpikir adalah utk akomodasi para penatar yg 'terbang' itu.

Quote
Tapi kalau memang tidak ada solusi masalah kehadiran, ya terpaksa niat ini diundur sampai waktu yg tidak terbatas (sampai kembali menetap di Indonesia)..
Utk ini kyknya kt msh terbuka kok utk usulan yg lbh aplikatif utk diterapkan disini. Jangan sampe malah gak mudik ya hehe... :D

Salam
Firman Herwanto
www.pavilion95.com

Rizky Eka Putra

  • Newbie
  • *
  • Posts: 5
  • Karma: +0/-0
Re: Bagi arsitek Indonesia di luar negeri
« Reply #13 on: May 09, 2009, 12:11:23 am »
Terima kasih atas masukannya.
Tetapi di sini tidak begitu. Peningkatan jumlah anggota berbanding lurus dengan seberapa pentingnya para "calon anggota" membutuhkan keanggotaan ini.
Di Indonesia, Sertifikasi (SKA) menjadi salah satu alasan.
Jika dibilang "kemudahan pendaftaran dan penataran", di Indonesia semua para lulusan arsitek bisa kapan saja mendaftar, tetapi nyatanya tidak.

Tidak tahu apa saya kurang informasi, tp waktu lulus dl tidak ada info dari universitas untuk menjdi anggota IAI. pendaftaran saya kira memang cukup mudah (sudah online formulirnya kalau tidak salah) namun keflexiblean penataran yg tidak, karena hanya berapa kali setahun(terbentur dana tentunya).

Saya kutip psdkt dari kata2 mas Juhara berdasarkan pembicaraannya dg Pak Endy, tentang pertanyaan salah seorang anggota IAI di Spore yg ingin mengikuti pendidikan strata dan pengurusan SKA :

Quote
Skrg IAI nasional sdh mempunyai hubungan baik dg Deplu. Mereka bahkan menyediakan fasilitas kedutaan Indonesia utk wadah bertemu mereka. Jadi kita harap masalah ini bisa beres dalam waktu dekat...

Mengenai sistem semacam kuliah/penataran online pd prinsipnya sih sgt mungkin, namun terus terang kendala teknologi disini yg memberatkan kyknya. Saat ini aja utk menetapkan pembuatan website dan developingnya kt harus berhitung benar finansialnya, apalagi pengadaan sistem IT yg lbh mumpuni. Nah kalo sdh ada kerjasama dg kedubes RI, tentunya tinggal kt petakan kembali anggota2 kita yg ada di LN agar memudahkan organizing-nya di tempat yg relatif netral/dekat, krn blm tentu terdapat jumlah yg sama utk msg2 negara. Biayanya saat ini yg terpikir adalah utk akomodasi para penatar yg 'terbang' itu.

Masalah KBRi itu akan jd masalah lain lagi mas..karena tidak semua negara (terutama di gulf area ya, kebetulan di Oman tidak ada) memiliki KBRI walaupun untuk setingkat konsulat. dan penatar yg "terbang" lebih mahal dari pada membuat sistem online toh.

Sistem online ini memudahkan semua arsitek Indonesia yag berada diluar negri maupun yg berada dipelosok Indonesia yg belum ada perwakilannya. Sehingga bukan hanya menguntungkan untuk arsitek Indonesia yg ada diluar negri aja. dan pengurus tidak terlihat hanya mengurusi yg diluar negri saja..tapi semua arsitek Indonesia.

Thanks..mudah2an bisa jadi masukan. Sebenarnya bagus juga diskusi ini dilepas ke forum2 arsitek indonesia lainnya.untuk sekaligus mengetahui animo mereka n kepedulian terhadap institusi ini. Karena disini yg menanggapi hanya pengurus IAI saja sepertinya.

SAM

  • Forum Administrator
  • Newbie
  • *****
  • Posts: 12
  • Karma: +0/-0
Re: Bagi arsitek Indonesia di luar negeri
« Reply #14 on: May 09, 2009, 02:55:00 am »
Wah mungkin perlu diluruskan apa bedanya antara anggota IAI dan Sertifikasi .
Apakan ini di lembagai oleh lembaga yang sama? atau Ada bedanya anggota badan keprofesian (IAI) dan badan pemerintah penguji Sertifikasi.
Mengambil contoh disini (USA) Sertifikasi dilakukan oleh Government (NCARB untuk tingkat National dan juga untuk tingkat State (negara bagian) punya badan sendiri juga biasanya di arsiteknya di sebut Registered Architect (RA).
Sedang untuk asosiasinya ada dua disini AIA dan dan ALA. Tidak semua architect menjadi anggota kedua badan tsb.
Yang berhak menyandang / menyebut diri Architect hanya yg punya RA , sedang semua bisa menjadi anggota AIA tanpa menjadi RA (biasanya disebut Associate AIA). Untuk jelasnya ikuti links: http://architect-source.blogspot.com/
Jadi diskusi kita bisa jelas kemana arahnya ...setelah pertanyaan perbedaan tsb dijawab dan kita bisa memilih kemanakah kita akan mengarahkan tujuan kita ke arah anggota asosiasi atau sertifikasi atau dua2nya jadi satu.
« Last Edit: May 09, 2009, 03:45:21 am by SAM »