Author Topic: Bagi arsitek Indonesia di luar negeri  (Read 20456 times)

firman herwanto

  • Forum Administrator
  • Newbie
  • *****
  • Posts: 45
  • Karma: +0/-0
Re: Bagi arsitek Indonesia di luar negeri
« Reply #15 on: May 12, 2009, 03:06:21 pm »
Quote
Tidak tahu apa saya kurang informasi, tp waktu lulus dl tidak ada info dari universitas untuk menjdi anggota IAI. pendaftaran saya kira memang cukup mudah (sudah online formulirnya kalau tidak salah) namun keflexiblean penataran yg tidak, karena hanya berapa kali setahun(terbentur dana tentunya).

Baru tahun ini memang IAI bekerjasama dg perguruan2 tinggi yg memiliki departemen/jurusan arsitektur dalam mengadakan sosialisasi keprofesian arsitek bagi para calon lulusan mahasiswanya (semester akhir). Hal ini diharapkan mjd awal pembentukan pendidikan yang berkelanjutan, mulai dari jenjang perguruan tinggi-pendidikan profesi-hingga sertifikasi keahlian oleh organisasi profesi atau lembaga yg berwenang.

Untuk penataran keprofesian (strata 1-6) sudah dijalankan secara rutin per 2 bulan sejak thn 2006 lalu, dan alhamdulillah sampai saat ini tetap berjalan meski kendala dana selalu membayangi:). Tp kenyataannya toh tetap hrs jalan. Kalo tentang kehadiran penataran yg memang tidak sefleksibel itu, terutama dalam hal kode etik...krn harap dimengerti bila kita jg tidak dapat memberlakukan dispensasi (atas ketidakhadiran) kpd rekan2 arsitek hanya krn lokasi yg berbeda.

Soal kerjasama dg KBRI memang mgkn msh belum bs mencakup seluruh wilayah di dunia, tp setidaknya utk negara2 di ASEAN akan cukup membantu. Utk wilayah lain yg lbh jauh tentunya efektifitas penatar 'terbang' memang kurang, dan akan jauh terbantu dg sistem online atau teleconference....setuju, cuma sistemnya yg saat ini blm siap. Tp gimana kalo gini...apakah anda sdh pernah berkolaborasi dg sesama ars indo diluar negri di sktr anda utk mbicarakan masalah ini? Plg tdk ya bikin janji utk secara bersama (kolektif) ingin 'mengurus' keprofesian anda msg2 pd waktu yg dsepakati? Kalo sdh mgkn bisa di-share ke pengurus disini kira2 gimana jadwalnya. Siapa tahu temen2 disini jd lbh punya bayangan tentang apa yg telah anda usahakan disana. 

Sbenarnya diskusi dalam forum ini baiknya bisa 'menggantikan' diskusi yg sblmnya selalu melalui media milis iai-architect ataupun forumami, krn sistem yg ada dlm forum ini sdh jauh lbh baik drpd milis. Meskipun demikian keberadaan milis2 ataupun grup di FB msh sah2 aja kok:)...moga2 lambat laun rekan2 anggota lain akan mulai 'beralih' diskusi disini. Kalo saat ini msh ditanggapi oleh pengurus ya mgkn krn kbetulan kami yg baca duluan ya hehe....

Salam
Firman Herwanto
www.pavilion95.com

Rizky Eka Putra

  • Newbie
  • *
  • Posts: 5
  • Karma: +0/-0
Re: Bagi arsitek Indonesia di luar negeri
« Reply #16 on: May 12, 2009, 03:50:45 pm »
Tp kenyataannya toh tetap hrs jalan. Kalo tentang kehadiran penataran yg memang tidak sefleksibel itu, terutama dalam hal kode etik...krn harap dimengerti bila kita jg tidak dapat memberlakukan dispensasi (atas ketidakhadiran) kpd rekan2 arsitek hanya krn lokasi yg berbeda.

Sebenarnya kenapa susah membuat penataran kode etik secara online(diluar masalah sistem yag blm siap)? Karena saya tidak pernah tau materi apa yg mesti disampaikan secara lagsung ya..kalo memang itu materi penataran yg bisa dianggap sama sperti kuliah, saya rasa bisa secara online.

masalah koordinasi dengan rekan2 di area yg sama sebenarnya bisa saja. hanya seperti yg saya sebutkan sebelumnya, tidak seperti yg berada di Indonesia, sangat sulit meminta ijin sehari 2 hari bila hanya untuk penataran. Dan faktor ketidk flexiblean ini kadang membuat beberapa rekan malas untuk mendaftar karena biaya lagi dan kalau mo di liat kembali pun sebenarnya dibeberapa negara keanggotaan ini tidak dianggap. Jadi sebgian besar berpikiran untuk apa?

Saya cuman memberi ide dan menanyakan kesempatan yg bisa diberikan oleh IAI untuk penerimaan anggota yg berada diluar negri maupun daerah2 yg jauh dari perwakilan2 IAI..

Thanks

stevejm

  • Guest
Re: Bagi arsitek Indonesia di luar negeri
« Reply #17 on: May 13, 2009, 01:33:39 pm »

Sebenarnya kenapa susah membuat penataran kode etik secara online(diluar masalah sistem yag blm siap)? Karena saya tidak pernah tau materi apa yg mesti disampaikan secara lagsung ya..kalo memang itu materi penataran yg bisa dianggap sama sperti kuliah, saya rasa bisa secara online.

Sebetulnya menurut saya bukan masalah sistemnya belum siap, karena rasanya teknologi dan aplikasinya sudah banyak dan siap untuk digunakan.
Namun seperti apa yg coba disampaikan oleh Novriko, menyiapkan sistem ini bukanlah pekerjaan gampang, selain persoalan SDM, kemudian prioritas Agenda Kegiatan/Pengembangan, juga masalah sumber dana dan efesiensi/optimalisasi dalam kerangka strategic resources & problem management IAI.

Pertama2 tentu saja, Rekan2 di LN silahkan mencoba berkonsolidasi secara regional untuk membicarakan solusi apa yg cocok atau tepat untuk menampung keinginan rekan-rekan. Sebenarnya dari diskusi kita ini sudah muncul beberapa opsi yang bisa dilaksanakan, kalo boleh saya rangkum dan tambahkan a.l:

1. Melalui program kolektif, yaitu rekan-rekan bisa sama2 menentukan kapan dan dimana tempat yg paling pas buat rekan2 di region tsb utk melakukan penataran dan pelantikan bersama. Panitianya silahkan dibentuk dari rekan yg ada, dan bisa berkoordinasi langsung dgn pengurus IAI Nas mengenai prosedur, materi, perangkat atau pendukung lainnya. Untuk pembicara, bisa saja dari IAI Nas yg akan mengirimkan Pembicara ke sana.
Nanti tinggal secara bersama-sama rekan2 panitia menghitung berapa besar anggaran yg dibutuhkan dan berapa biaya yg akan dikenakan kepada peserta agar acara tersebut bisa terlaksana dimana mungkin biaya tsb akan lebih tinggi daripada biaya pendaftaran acara yg sama di Jakarta atau Indonesia namun seharusnya jauh lebih murah daripada rekan2 tsb terbang ke indonesia hanya untuk mengikuti penataran saja.
Tidak tertutup kemungkinan Kegiatan koletif ini pun bisa jadi cikal bakal pembentukan IAI Daerah di region tsb jika ternyata jumlah anggota baru yg berhasil dikumpulkan cukup signifikan untuk pembentukan IAI Daerah.

2. IAI menyiapkan Sistem Online yg dibutuhkan namun rekan-rekan di LN harus bersedia bersama2 menanggung konsekuensi biaya pengembangan sistem tersebut. Bersedia menanggung konsekuensi ini bisa berbentuk macam-macam, bisa mulai dari bersedia ikut menanggung biaya pengembangan sistem, atau bersedia dikenakan biaya lebih (agar investasi sistem online tsb bisa klembali) atau bersedia memenuhi quota tertentu agar sistem tsb bisa berjalan optimal.
Atau tidak tertutup kemungkinan juga malah mungkin rekan2 di LN yg menyiapkan sistemnya, nanti tinggal dari IAI yang mengisi/menyiapkan materinya.


Sebagai informasi, saat ini sebenarnya IAI Jkt sedang menyiapkan sebuah sistem online untuk Ujian Peraturan Bangunan secara online. Ujian online ini rencananya akan berfungsi sebagai salah satu persyaratan untuk memperoleh/memperpanjang SIPTB (Surat Ijin Pelaku Teknis Bangunan, sebelumnya dikenal sbg SIBP) di Jakarta.
Dalam sistem yg diharapkan bisa jadi cikal bakal pendidikan strata secara online ini tidak hanya memiliki fitur ujian online tapi juga sistem course online. Bisa saja jika nantinya sistem ini juga dikembangkan jadi pendidikan kode etik dan pelantikan namun perlu didiskusikan lebih lanjut dgn DKA dan pengurus nasional.

Apakah ada yg bisa kasih jumlah pasti berapa banyak rekan2 yg berada di LN per regionnya?

steve jm

Cameku

  • Newbie
  • *
  • Posts: 2
  • Karma: +0/-0
Re: Bagi arsitek Indonesia di luar negeri
« Reply #18 on: January 25, 2011, 10:21:54 pm »
Jika saya walaupun berdomisili di luar negeri tetapi tetap berminat jadi anggota IAI, harus mendaftar kemana ya?

novriko

  • Forum Administrator
  • Sr. Member
  • *****
  • Posts: 335
  • Karma: +3/-0
  • Admin Web
Re: Bagi arsitek Indonesia di luar negeri
« Reply #19 on: January 26, 2011, 10:35:17 am »
Dikala mendaftar, maka ada proses penataran keprofesian sebagai salah satu syaratnya.
Jika ada Anggota IAI di Belanda yang memenuhi persyaratan untuk menjadi penatar, maka akan ada kesempatan tersebut.

Atau, bisa saja teman-teman di sana berkumpul dan sepakat untuk membentuk cabang baru, maka IAI Nasional akan mendukung keinginan tersebut dengan prosedur yang sederhana. Tinggal diupayakan saja komitmennya.
Jenius adalah 1 % inspirasi dan 99 % keringat. Thomas A. Edison
Forum khusus pengurus | Alamat Sekretariat IAI

kahlu4

  • Newbie
  • *
  • Posts: 8
  • Karma: +0/-0
Re: Bagi arsitek Indonesia di luar negeri
« Reply #20 on: August 09, 2011, 02:04:22 pm »
Intinya, di Indonesia jika sudah lulus S-1=Arsitek. Hanya perlu mendaftar untuk menjadi anggota IAI untuk dapat titel 'Arsitek'?

Di USA, jika lulus B.Arch(program 5 tahun) harus IDP minimal 3 tahun, lalu ujian ARE, baru mendapat titel 'Arsitek'. (Titel disini berarti dapat men-stamp Construction Drawing)

Saya baru saja lulus BFA in Architecture Design (program 4 tahun). Menurut NAAB/NCARB, harus ada tambahan 2 tahun M.Arch sebagai persyaratan mengikuti ARE exam, lalu mendapat titel 'Arsitek'.

Setahu saya, program S-1 arsitektur di Indonesia hanya 4 tahun. Pertanyaan saya, apakah degree BFA saya sama dengan S-1 arsitektur di Indonesia? Dengan kata lain, saya tidak usah menjalani program M.Arch tambahan untuk mendapat titel 'Arsitek' di Indonesia.



*Di USA, NAAB bertugas mensertifikasi kurikulum sekolah arsitektur. Setifikasi/license diurus NCARB. Lalu AIA hanya bertugas sebagai wadah arsitek disana. Dengan kata lain, tidak perlu menjadi anggota AIA untuk dapat titel 'Registered Architect'. Untuk menjadi arsitek harus lulus program yg diakreditasi NAAB, Intern IDP minimal 3 tahun, lalu ARE Exam. Arsitek disini sangat protektif terhadap titel mereka karena banyaknya yang menyabotasinya seperti Data Architect, Software Architect. Padahal tidak ada hubungannya sama sekali dengan 'arsitek' yang sesungguhnya.
« Last Edit: August 09, 2011, 02:14:17 pm by kahlu4 »

novriko

  • Forum Administrator
  • Sr. Member
  • *****
  • Posts: 335
  • Karma: +3/-0
  • Admin Web
Re: Bagi arsitek Indonesia di luar negeri
« Reply #21 on: August 09, 2011, 07:17:47 pm »
Sertifikasi di Indonesia dilakukan oleh LPJK (Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi) yang pelaksanaannya diserahkan kepada Asosiasi Profesi, yang khusus untuk arsitek adalah IAI.

Untuk sertifikasi keprofesian arsitek, IAI mengatur tata cara perolehan sertifikasi sebagai berikut:
  • Kuliah S1- Arsitektur (4 thn)
  • Pendidikan Profesi Arsitek (1 thn)
  • Magang (2 thn)
Baru setelah itu dapat mengajukan permohonan sertifikat.
Program BFA yang telah mas Kahlua terima, dapat disamakan dengan program S1 Arsitektur di Indonesia.

Salam.
Jenius adalah 1 % inspirasi dan 99 % keringat. Thomas A. Edison
Forum khusus pengurus | Alamat Sekretariat IAI

kahlu4

  • Newbie
  • *
  • Posts: 8
  • Karma: +0/-0
Re: Bagi arsitek Indonesia di luar negeri
« Reply #22 on: August 09, 2011, 08:39:34 pm »
Terima kasih atas informasinya, mas novriko.


Agar lebih jelasnya lagi, jadi untuk mendapat sertifikasi, fresh grad harus memenuhi persyaratan IAI, sebelum memohon persyaratan dari LPJK?

'Pendidikan Profesi Arsitek' itu apa? Apakah itu berbeda/tidak termasuk dalam kurikulum S-1?

Lalu, bagaimana membuktikan magang(2thn) tersebut valid?

Kalau disini, harus mentor yang dipilih intern/bos incharge of intern yang boleh menandatangani dokumen2 IDP. Jadi disini intern harus mengisi hours. Misal hours untuk programming 80 hours, hours untuk schematic design 120 hours, dan seterusnya. Bagaimana kalau di Indonesia? Apakah ada persyaratan2 seperti itu?

Apakah magang(2thn) tersebut harus di firma arsitektur di Indonesia?

Bagaimana kalau saya magang dibawah Registered Architect di bawah naungan RIBA/NCARB? Apakah magang tersebut diakui untuk sertifikasi?


« Last Edit: August 09, 2011, 08:59:46 pm by kahlu4 »

novriko

  • Forum Administrator
  • Sr. Member
  • *****
  • Posts: 335
  • Karma: +3/-0
  • Admin Web
Re: Bagi arsitek Indonesia di luar negeri
« Reply #23 on: August 15, 2011, 09:51:00 am »
Agar lebih jelasnya lagi, jadi untuk mendapat sertifikasi, fresh grad harus memenuhi persyaratan IAI, sebelum memohon persyaratan dari LPJK?
ya benar. terhitung sejak 2009, fresh graduate harus memenuhi jalur mainstream: sekolah 5 tahun, magang 2 tahun, baru eligible untuk ambil sertifikat. semua proses sertifikasi dilakukan oleh iai melalui dewan keprofesian iai. pada ujung akhir, sertifikat diregistrasi secara nasional oleh lpjk.

'Pendidikan Profesi Arsitek' itu apa? Apakah itu berbeda/tidak termasuk dalam kurikulum S-1?
pendidikan arsitektur di indonesia hanya 4 tahun. hal ini tidak memenuhi syarat kesepakatan internasional yg mewajibkan sekolah 5 tahun. oleh karena itu perguruan tinggi "menambah" 1 tahun dengan pendidikan profesi arsitek. pendidikan ini bukan tambahan ala kursus karena program kurikulumnya harus utuh dan melengkapi pendidikan 4 tahun sebelumnya. saat ini sudah 10 perguruan tinggi di indonesia yang menjalankan program pendidikan profesi arsitek.

Lalu, bagaimana membuktikan magang(2thn) tersebut valid?

Kalau disini, harus mentor yang dipilih intern/bos incharge of intern yang boleh menandatangani dokumen2 IDP. Jadi disini intern harus mengisi hours. Misal hours untuk programming 80 hours, hours untuk schematic design 120 hours, dan seterusnya. Bagaimana kalau di Indonesia? Apakah ada persyaratan2 seperti itu?

Apakah magang(2thn) tersebut harus di firma arsitektur di Indonesia?

Bagaimana kalau saya magang dibawah Registered Architect di bawah naungan RIBA/NCARB? Apakah magang tersebut diakui untuk sertifikasi?
untuk magang akan ada mentor, yaitu anggota iai bersertifikat. apa yang harus dikuasai selama magang ada pedomannya, dan pengalaman magang diisikan kedalam logbook. mentor memeriksa dan mensahkan logbook sejauh memenuhi syarat. magang tidak harus di firma arsitektur di indonesia, dan mentor/pembimbing magang adalah/dibolehkan arsitek bersertifikat/licensed/registered di negara bersangkutan.
Jenius adalah 1 % inspirasi dan 99 % keringat. Thomas A. Edison
Forum khusus pengurus | Alamat Sekretariat IAI

kahlu4

  • Newbie
  • *
  • Posts: 8
  • Karma: +0/-0
Re: Bagi arsitek Indonesia di luar negeri
« Reply #24 on: August 17, 2011, 11:48:30 pm »

Terima kasih sekali, mas novriko. Saya dan teman-teman disini kebingungan mencari informasi seperti ini. Bertanyapun, tidak tahu harus bertanya kemana. Mungkin untuk kedepannya, informasi seperti ini dapat di compile kedalam 1 PDF yang dapat di download dari website iai. Saya yakin hal tersebut akan memudahkan calon-calon arsitek lainnya yang belajar di LN. Saya dan teman-teman di LN mengerti kesibukan anggota iai seperti anda yang harus mengurus tidak hanya arsitek-arsitek di indonesia, tetapi juga lainnya. Kami di LN dengan senang hati dapat volunteer membantu mengcompile informasi tersebut jika diperlukan.


Tentang pendidikan profesi arsitek, pendidikan tersebut hanya diharuskan untuk mahasiswa/wi yang memperoleh gelar 4thn seperti BFA, BS, BA. Dalam kata lain, pendidikan yang di indonesia disebut S-1. Apakah saya harus mengikuti pendidikan profesi arsitek jika saya memperoleh gelar B.Arch(5thn) atau M.Arch(S-2)?


Saya dan beberapa teman saya berencana untuk melanjuti program 4+2 NCARB(4 thn bachelor + 2 thn master). Kami hanya ingin mengetahui apakah kami harus mengikuti pendidikan profesi arsitek(1thn) lagi jika ingin berprofesi di indonesia.


Tentang logbook, dimana logbook tersebut dapat di download? Beberapa teman ada yang telah magang dan mereka bingung apakah mereka harus mengisi logbook IDPnya NCARB atau pasrah tidak diregister pengalaman magang mereka. Lalu, untuk mentor yang di LN, apakah mereka harus lapor terlebih dahulu ke iai sebelum mereka dapat menantangani logbook tersebut? Kalau iya, bagaimana prosesnya?


Mas, ini saran saja ya. Apakah iai tidak memiliki anak organisasi seperti AIAS(American Institute of Architecture Student) yang bertugas mensosialisasikan proses-proses menuju sertifikasi untuk mahasiswa/wi? Mungkin akan lebih mudah untuk anggota-anggota iai seperti anda jika setiap sekolah arsitektur di indonesia memiliki organisasi seperti ini. Mahasiswa/wi juga akan memiliki tempat untuk menampung aspirasi mereka yang berlaku secara nasional. Tentu ini akan memudahkan mahasiswa/wi untuk bertukar pikiran.


Salam

hendrajaya

  • Pengurus IAI
  • Newbie
  • *****
  • Posts: 3
  • Karma: +0/-0
Re: Bagi arsitek Indonesia di luar negeri
« Reply #25 on: August 20, 2011, 06:55:08 pm »
Salam arsitek,
Saya coba bantu jawab bang Novriko untuk pertanyaan mas Kahlu4 (maaf saya cari namanya kok gak ketemu) yang lagi berjuang di Amerika ya. Sebenarnya persyaratan untuk mendapatkan sertifikat itu tidak rumit. Kan semua ikatan profesi di dunia sudah mengacu pada rekomendasi UIA bahwa syarat menjadi arsitek adalah berpendidikan arsitektur 5 tahun, ditambah magang 2 tahun, dan kemudian ujian profesi. IAI melalui Rakernas januari 2009 sudah memberlakukan aturan ini sehingga mereka yang lulus tahun 2009 dan berikutnya diwajibkan untuk melengkapi 4 tahun pendidikan yang pernah ditempuhnya menjadi 5 tahun. Caranya adalah dengan mengambil program pendidikan profesi (1 tahun) yang sudah diselenggarakan oleh 10 perguruan tinggi di Indonesia, atau sekalian ambil program master arsitektur 2 tahun (dengan core perancangan, bukan misalnya sejarah atau teori) dimana saja, di Indonesia atau di luar negeri. Jadi dengan demikian ini menjawab pertanyaan mas Kahlu4 jika sudah dapat gelar B.Arch (5thn) atau M.Arch (2tahun). Otomatis dengan gelar ini persyaratan pendidikan 5 tahun terpenuhi, gak usah lagi repot repot ambil program PPAr.

Tentang pemagangan juga jangan panik. IAI memang sudah membuat logbook sebagai kelengkapan utama bagi mereka yang mengambil magang. Untuk mendownload nanti saya tanya ke pak Didi Haryadi dan pak Danang. Tapi pada prinsipnya kalau memang mas Kahlu4 dan kawan2 sudah mulai magang dengan logbook NCARB jalan saja terus, yang penting adalah semua kegiatan bisa tercatat dan di tanda tangani oleh Mentor. Mohon kamu bisa melaporkan rencana magang nya kapan dan data mentor bisa di info kan ke IAI sehingga semuanya bisa dicatat dalam database.

IAI memang tidak punya anak organisasi, tapi yang berperan aktif adalah IAI daerah dan cabang dalam mensosialisasikan info info semacam ini baik ke anggota atau ke mahsiswa. Harus diakui tidak semua IAI daerah cukup "agresif" dalam penyampaian info semcam ini, kadang kadang memang masalahnya terkesan tidak begitu penting, atau juga salah interpretasi walaupun dari beberapa kali rakernas hal ini selalu dipresentasikan. Selain itu juga diakui banya kendala yang menyebabkan program pendidikan 5 tahun tidak berjalan lancar. Kendala ekonomi terutama sangat dirasakan bagi para lulusan yang baru lulus, terutama mereka yang kemampuan finasialnya terbatas. Untuk membayar uang pendaftaran dan uang kuliah selama 1 tahun lagi sudah cukup membuat mereka berfikir lama. Hal ini pula kelihatannya yang menyebabkan perguruan tinggi agak berhati hati untuk mengadakan program profesi di tempat masing2 sebab selain menyangkut masalah birokrasi juga menyangkut biaya gaji dosen dll yang harus disiapkan, kalau peminat sedikit tentunya biaya ini tidak akan tertutup. Faktor geografis juga salah satu kendala. Sejauh ini perguruan tinggi penyelenggara pendidikan profesi (PPAr) hanya tersebar di Jawa kecuali Universitas Sumatra Utaran (USU), padahal ada lebih dari 150 perguruan tinggi penyelenggara pendidikan arsitektur tersebar di seluruh Indonesia. Bagaimana mahasiswa lulusan universitas di Manado misalnya yang berminat untuk menjadi arsitek profesional, artinya harus bersekolah di p Jawa, yang artinya juga bahwa program profesi secara tidak langsung menjadi mahal.

Sadar akan kendala kendala diatas, pada saat ini bidang pendidikan dan keprofesian IAI sedang merampungkan sistem keprofesian yang lebih simpel dengan harapan lebih banyak lulusan arsitek yang bisa terserap dalam lapangan kerja didaerah masing masing dan keahliannya sebagai arsitek dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk kepentingan pembangunan daerah.

Semoga jawaban singkat ini bisa turut membantudan menjawab pertanyaan2 mas Kahlu 4 , terima kasih.

Salam,

Hendrajaya, IAI
Bidang Pendidikan

kahlu4

  • Newbie
  • *
  • Posts: 8
  • Karma: +0/-0
Re: Bagi arsitek Indonesia di luar negeri
« Reply #26 on: August 21, 2011, 09:43:07 pm »

Terima kasih, mas Hendrajaya. Informasi anda sangat membantu, terutama tentang resiprositas pendidikan secara internasional.


Mengenai cara lapor magang, gagaimana cara melapor info-info tentang rencana magang dan data mentor? Apakah kami hanya perlu meng-email data-data tersebut ke suatu alamat email ofisial iai? Kalau iya, apa alamat email tersebut? Atau iai butuh hardcopy data-data tersebut?


Mengenai pendidikan, iai mungkin dapat membantu mahasiswa/wi di daerah seperti Manado dengan mengadakan online PPAr yang diselenggarakan bersama universitas lokal/jawa yang memiliki program arsitektur. Setahu saya walaupun jarang, ada sekolah di amerika bernama Boston Architectural College yang mempunyai program distance M.Arch. Setahu saya program tersebut sangat membantu calon-calon arsitek di Alaska karena tidak adanya perguruan tinggi di Alaska yang memiliki program arsitektur yang diakui NAAB.


Salam