Author Topic: IAI & JAIM?  (Read 6061 times)

firman herwanto

  • Forum Administrator
  • Newbie
  • *****
  • Posts: 45
  • Karma: +0/-0
IAI & JAIM?
« on: September 07, 2009, 08:16:21 am »
Stlh baca2 lg soal reaksi arsitek thd bencana gempa lalu dlm tulisan mas Yusing, kok sy agak krg sreg ya dg istilah JAIM yg disandingkan dg pengabdian profesi IAI....seakan2 IAI memang tdk merakyat. Apa memang demikian? Kyknya selama ini yg jd mslh adalh program yg MUNGKIN blm terasa kearah sana yg bs jg akibat krgnya tenaga penggerak ataupun informasi, tp sbg wadah bersama sy rasa IAI telah ckp solid.

Apakah ukuran merakyat adalah dg biaya murah/terjangkau? Kalo iya, jd inget ttg kasus2 sejenis sblmnya dmn biaya/fee mjd tolok ukur diskusi ttg etika berprofesi. Pengabdian profesi kpd masyarakat ataukah individu2? Sbg analogi, dmn kah posisi YLBHI dbandingkn dg asosiasi advokat indonesia?

Mgkn bidang pengabdian profesi IAI yg bs mnjawab issue ini...sblm muncul byk pihak2 yg krg puas dg kebijakan IAI lalu mmutuskan utk mbuat jalannya sendiri, meski dlm konteks demokrasi hal ini mjd sah2 aja...

Maaf kl hal ini disampaikan dlm topik trkait musibah gempa, namun tdk ada mksd utk mngalihkan masalah kok...Oya, mgkn lbh enak jg kalo diskusi ini diteruskan di forum iai ya.

Salam,

Firman Herwanto
Firman Herwanto
www.pavilion95.com

yu sing

  • JAIM
  • Newbie
  • *
  • Posts: 10
  • Karma: +0/-0
Re: IAI & JAIM?
« Reply #1 on: September 08, 2009, 02:53:36 pm »
mas sbtlnya jaim ini akan menjadi semacam perpanjangan tangan iai di bidang hunian.merupakan pelayanan terus menerus soal desain rumah utk masy menengah ke bawah.(tdk tergantung kpd acara klinik desain yg insidentil)
sekaligus sebagai bagian pengenalan iai secara lgs thd masy. krn nantinya jaim berada di bwh iai (bagian dr iai).jaim merupakan bagian dr iai yg memasyarakat (sisi lain dr iai yg selama ini banyak bergerak di level 'elit' dan terbatas)
termasuk jaim akan membantu mobilisasi arsitek utk terjun dlm setiap rekonstruksi bencana yg terus terjadi di negri kita.
rencananya kalau ada ksmpatan, kita juga akan terjun utk membantu rekonstruksi akibat gempa tasikmalaya .
pengabdian sebagai penasehat jaim sekaligus membantu anggota iai utk ikut serta dlm pengabdian.

firman herwanto

  • Forum Administrator
  • Newbie
  • *****
  • Posts: 45
  • Karma: +0/-0
Re: IAI & JAIM?
« Reply #2 on: September 16, 2009, 06:44:08 pm »
Sbnrnya kalo utk memfokuskan di bidang perumahan rakyat berbiaya rendah bisa saja dlm format pokja? Disini pembahasan bisa intensif, dan lbh punya payung organisasi tanpa mengesankan organisasi dlm organisasi...

Smentara utk mobilisasi tenaga hali yg terjun di kawasan terlanda bencana sy kira jg bagus, dan emang kt butuh yg semacam ini. Tp kembali, ini sgt bersifat insidentil, dan kt bisa secara bergantian atau mgkn disusun mekanisme nilai KUM yg sgt besar utk pengabdian profesi spt ini, trutama bagi yg terjun lsg ke lapangan ya.

Sedangkan pengabdian yg lbh long term, sy rasa IAI hrs memikirkan lbh serius, tajam sekaligus hati2. Krn ranah yg ada saat ini cenderung mengarah pd 'pelayanan' individu bagi 'masyarakat krg mampu'. Disini bisa rancu, siapa yg masuk kategori tdk mampu, apakah dg melayani mrk yg krg mampu membangun rmh 100m2 dg yg baru mampu beli tipe 36 bisa sama? Apakah kalo cuma mau renovasi lt atas seluas 50m2 (meski rmhnya sdh 300m2) bisa dimasukkan dlm kategori krg mampu meski luasannya terbilang kecil? Apakah penanganan masalah konstruksi yg asal2an trmsk dlm penyelesaian arsitektur ataukah kesalahan kontraktor yg seakan 'perlu ditanggung' arsitek? Msh byk hal2 lain yg mgkn mas YUsing sdh lbh bersinggungan, tp bisa jd memang sulit ditemukan titik tengahnya.

Krn ketika kita bicara organisasi maka kepentingan anggota yg lbh besar jg hrs dipertimbangkan, disamping tentunya masyarakat ya. Artinya begini, jangan sampai terkesan JAIM ini adalah sbuah media baru mendapat jasa arsitek murah yg 'diakui' IAI utk masyarakat krg mampu, pdhl kt sendiri blm mendefinisikan arti krg mampu itu. Dlm buku merah memang ada aturan fee yg kecil (atau nol) utk bangunan <36m2, apakah JAIM menerapkan hal yg sama? Kalo sama knp hrs dibedakan strukturnya dg pengabdian profesi IAI? Kalo tdk, bisa gak kt cari titik temunya?

Silakan didiskusikan bersama....
Thanks.
Firman Herwanto
www.pavilion95.com

yu sing

  • JAIM
  • Newbie
  • *
  • Posts: 10
  • Karma: +0/-0
Re: IAI & JAIM?
« Reply #3 on: September 18, 2009, 10:13:24 am »
bro, kayanya ada yg salah tangkap deh. :P
mas firman belum menangkap maksud jaim ini dan hub dgn pengabdian.
pengabdian sedang menyusun strategi dan panduan sistematis utk jadi pegangan/rujukan dlm pelaksanaan pengabdian iai daerah.
tentunya ini tidak mudah, apalagi pengabdian sempat vakum bbrp tahun ke belakang dulu katanya.
dan pengabdian amat tdk hanya urusan jaim. jadi jgn lgs cepat ambil kesimpulan dong pengabdian hanya melayani individu lewat jaim doang man.
ini hrsnya yg jawab mbak jovita, mungkin dia jarang masuk forum ini kali yah.

mas, tahu tdk? kebanyakan arsitek saat ini dinilai elitis lho hanya utk kalangan mampu. sampai2 masyarakat takut, TAKUT, menghubungi arsitek. siapa yg salah? masyarakat yg ketakutan? bukan. kita yg salah bro.
sptnya mas juga blm menangkap soal jasa desain yg sempat sy singgung di milis juga.sy sdh sering bilang soal ini. udah cukup ah.termasuk kelemahannya buku merah soal panduan jasa. dan memang diakui oleh para sepuh pembuat panduan tsb, itu HANYA LAMPIRAN. bukan paksaan. hanya perbandingan. krn memang sy juga melihat belum pas. di aia kalau tdk salah aturan tsb sudah dicabut.

mulanya, sy diajak pengabdian profesi utk merumuskan bersama soal 'dialog arsitektur'. ini gantinya klinik arsitektur yg sering salah teknis dlm melayani masyarakat yg juga mengaburkan profesi arsitek seolah2 gampangan. nah daripada bergantung hanya pada pertemuan insidentil lewat acara2 dialog di pameran2 doang, yg menurut saya terlalu terbatas,
maka sy kembangkan jaim. agar arsitek, dhi iai, tdk hanya bisa ditemui masyarakat kebanyakan pada saat pameran2 ketika ada klinik doang. jaim on terus sepanjang tahun. kapan saja, dimana saja, di seluruh indonesia. itu target jangka panjangnya.

mas kok takut sekali dengan soal jasa desain murah yah? ini kenyataan mas, masih banyak lulusan arsitek yg tdk bisa kerja. mungkin mas firman merasa lbh mudah krn di jakarta, coba di daerah2, berapa banyak proyek swasta/individu? dikit mas. pdhl lulusan arsitek mahal. padahal sebetulnya tdk sedikit. hanya saja individu2 takut / segan berhubungan dgn arsitek.
maka lewat jaim, justru memancing banyak proyek, maka arsitek bisa bernafas lbh lega, maka tdk perlu banting2an harga spt yg sering2 disudutkan di milis.
coba mas firman bayangkan, mas di daerah jauh, menerima proyek dgn jasa desain 10.000,- rp saja per m2. apa rasanya? menderita kan? tp buat bbrp arsitek tsb, itu demi makan! demi keluarga. mana ada sih yg mau dibayar murah? kalau tetap ada yg terpaksa menjalankan, maka kita harus introspeksi besar2an.
masih banyak rumah yg didesain arsitek saja kurang sehat atau jelek ventilasinya dan sebagainya. apalagi dgn pengetahuan terbatas masyarakat yg kutak-katik sendiri. itu yg jadi kegelisahan saya.
salam
sing
ps: jgn cepat ambil kesimpulan ah


firman herwanto

  • Forum Administrator
  • Newbie
  • *****
  • Posts: 45
  • Karma: +0/-0
Re: IAI & JAIM?
« Reply #4 on: November 24, 2009, 01:04:22 pm »
mas kok takut sekali dengan soal jasa desain murah yah? ini kenyataan mas, masih banyak lulusan arsitek yg tdk bisa kerja. mungkin mas firman merasa lbh mudah krn di jakarta, coba di daerah2, berapa banyak proyek swasta/individu? dikit mas. pdhl lulusan arsitek mahal. padahal sebetulnya tdk sedikit. hanya saja individu2 takut / segan berhubungan dgn arsitek.
maka lewat jaim, justru memancing banyak proyek, maka arsitek bisa bernafas lbh lega, maka tdk perlu banting2an harga spt yg sering2 disudutkan di milis.
coba mas firman bayangkan, mas di daerah jauh, menerima proyek dgn jasa desain 10.000,- rp saja per m2. apa rasanya? menderita kan? tp buat bbrp arsitek tsb, itu demi makan! demi keluarga. mana ada sih yg mau dibayar murah? kalau tetap ada yg terpaksa menjalankan, maka kita harus introspeksi besar2an.
masih banyak rumah yg didesain arsitek saja kurang sehat atau jelek ventilasinya dan sebagainya. apalagi dgn pengetahuan terbatas masyarakat yg kutak-katik sendiri. itu yg jadi kegelisahan saya.
salam
sing
ps: jgn cepat ambil kesimpulan ah


Sama bro, jangan cepat ambil kesimpulan ah....

Sy tidak takut dengan jasa desain murah, krn masing2 punya jalan dan pasarnya kok. Yg perlu dipikirkan adalah dlm konteks sistem berorganisasi ini, yg mana perlu ditampung kepentingan2 banyak pihak dlm lingkungan jasa konstruksi khususnya arsitek, siapapun dan apapun 'kelas'nya. Kalo bro Sing suka bergerak kemana-mana dg JAIM nya silakan aja, yg sy pertanyakan justru dibawah koordinasi siapakah masalah pengabdian profesi sejenis.

Sebuah sistem dibuat utk bisa mengatur jalan banyak pihak agar tdk bersinggungan/berselisih/tumpang tindih/bundet, berdasarakan kesepakatan2 pihak2 yg terlibat di dalamnya. Sy pikir tinggal gimana mas Yusing bisa menjawab pertanyaan sy dlm posting sblmnya ttg isu2 yg mgkn muncul dlm sistem yg anda ajukan....

Mgkn saja sy berpraktek di jakarta shg dicap lbh mudah, tp tentunya dlm setiap aspek bisnis dimanapun sama, ada berbagai pertimbangan dan peluang yg perlu disikapi dg bijak. Dan mgkn juga anda lbh berpengalaman menghadapi klien2 yg 'krg mampu', namun perlu anda ingat bahwa masyarakat kita meski demikian tidaklah bodoh. Prinsip ekonomi biar bagaimana tetap diingat dan dpraktekkan dg lugas di keseharian kita. Apakah pernah anda menemui klien yg berlagak seolah krg mampu hanya utk mendapat dsain murah, namun ketika tahap pembangunan keseluruhan speknya diganti mjd jauh lbh mewah? Tentunya ini hanya satu hal, tp dg demikian kt tdk dpt melihat segalanya dlm satu kacamata saja, bahwa kt pun hrs berpihak pd 'si miskin' ataupun 'si kaya'....tidak se naif itu.

Sy inget penjelasan mas Yudha ttg akses difabel ketika ikut strata 3 IAI dulu....mgkn agak OOT tp bisa jg berhubungan. Dikatakan bahwa salah satu alasan kt menyediakan akses khusus bagi kaum difabel adalah jg memberi pembelajaran bagi pihak2 lain bahwa kita hidup bersama, dan ada sebagian lain yg tidak seberuntung kita shg keberadaan mrk pun perlu dihormati. Nah, sistem pun dibuat seyogyanya utk bs mengantisipasi hal2 yg mgkn minoritas atau jarang terjadi, tp apabila terjadi akan berpotensi merugikan. 

Kalo anda bergerak di pengabdian profesi IAI, lalu kenapa tidak anda gunakan IAI sbg kendaraan anda utk menjembatani itu semua? Atau mgkn JAIM ingin hadir layaknya LBH bagi dunia hukum di indonesia? Silakan saja dpikirkan mekanismenya bdasarkan preseden sistem yg sdh ada. Sy hanya khawatir seakan kita semua berjalan sendiri2 diluar sistem yg kita bentuk bersama, hanya krn ada kekurangan yg mgkn bisa diperbaiki.

Salam,


Firman Herwanto
www.pavilion95.com