Author Topic: Pendidikan Arsitektur - Sekolah/Jurusan Arsitektur di Indonesia  (Read 14515 times)

Dian Kusumaningtyas

  • Web Author & Editor
  • Trade Count: (0)
  • Newbie
  • *****
  • Posts: 49
  • Karma: +0/-0
Pendidikan Arsitektur - Sekolah/Jurusan Arsitektur di Indonesia
« on: September 10, 2009, 02:03:12 am »
Akhir2 ini (1.5 tahun terakhir) saya banayk mengerjakan proyek Higher Education di beberapa Negara. ‘Higher Education’ adalah membangun Universitas.

Beberapa Universitas yang saya kerjakan, diantaranya termasuk Universitas yang memiliki jurusan Arsitektur. Akibatnya saya harus mendalami soal ‘Education Planning’ untuk dapat memprogram ruang dan selanjutnya menbentuk bangunan.

Selama saya mengerjakan analisa2 ini; saya menerima bahan dan mensurvey beberapa ‘World Class University’ seperti: Harvard, MIT, Stanford, Princeton, Oxford, Cambridge. Dan untuk dapat menghasilkan konsep yang baik; semua data ‘Education Planning’ harus dibaca, untuk dapat di implementasikan ke dalam gedung. Data2 ini mulai dari: Jumlah murid (FTE dll); kurrikulum; organisasi fakultas; sampai kegiatan2 murid dan guru.

Otomatis saya tertarik dengan Fakultas atau Jurusan Arsitektur. Saya tertarik dengan kurikulumnya, fasilitasnya, organisasinya, kegiatannya dan lain lain. Akibatnya, semakin sedih saya memikirkan perbedaan yang saya lihat dengan Jurusan Arsitektur di Indonesia.

Saya tidak ingin membahas soal FTE; karena menurut saya semua sekolah arsitektur di Indonesia mempunyai data yang akurat. Yang menjadi perhatian saya terutama adalah soal: kurikulum, fasilitas, organisasi dan aktifitas murid dan guru.

Yang pertama, fasilitas. Fasilitas adalah: Kelas (Classroom) dan Laboratorium (Laboratories).
Dibawah ini daftar laboratorium yang harus disediakan:

Laboratorium
•   Computer Grahics/CAD Lab
•   Computer Instructional Lab
•   Design Studio/Student Workspace
•   Drawing/Graphic Design Lab
•   Gallery Space
•   Critique/Exhibit Space
•   Model Making Shop
•   Woodwork Shop
•   Ceramics Shop
•   Metal work Shop
•   Painting Shop
•   Photography Lab and Darkroom
Plus lab gabungan dengan jurusan lain:
•   Lighting Lab
•   Acoustic Lab
•   Environmental Lab

Classroom - Undergraduate
•   Classroom – 30 seat
•   Classroom – 40 seat
•   Classroom – 60 seat
•   Classroom – 80 seat
•   Lecture Hall – 120 seat

Classroom – Postgraduate (selain yang diatas dipakai bersama, ditambah fasilitas dibawah ini)
•   Classroom  - 20 sampai 24 seat
•   Group discussion room – 4 sampai 12 seat
•   Research Space – workstation (1 to 1)

Didalam  Laboratory dan Classroom fasilitas yang disediakan selain ruang termasuk juga peralatan2.

Yang kedua: Kurikulum. Secara khusus saya membaca (diantara ribuan lembar laporan yang harus saya baca) saya mencari bidang: Arsitektur. Kebetulan di buat perbandingan antara universitas2 yang kami survey itu. Bukan dari segi kualitas (in and out) tapi dari segi fasilitas yang harus disediakan terkait dengan kurikulum yang disediakan. Tujuannya untuk mencari efisiensi ruang dan jumlah ruang yang akan dibangun yang terkait dengan biaya yang disediakan.

Hal diatas mengakibatkan terjadinya tarik ulur jumlah kelas, jenis kelas dan waktu kelas yang pada akhirnya menghasilkan jumlah kredit yang diberikan kepada siswa; yang hasilnya adalah kualitas pendidikan yang diberikan kepada siswa.

Ada beberapa hal yang segera terlihat oleh saya dari survey dan matriks perbandingannya; sekolah di Indonesia memberikan kurikulum yang luas sekali sehingga menurut saya kehilangan focus (core capability). Kurikulum dari universitas2 diluar Indonesia itu saya bandingkan dengan 2 perguruan tinggi besar di Indonesia.

Pertanyaan:
Mata kuliah: Pancasila dan yang sejenisnya (jumlah kredit: 2) jumlah kredit ini kecil; tapi 12 tahun mata kuliah tersebut diajarkan dari SD (6thn) + SMP (3thn) + SMA (3thn); kenapa masih diajarkan lagi di Universitas. Pada zaman Orde Baru; mata pelajaran itu diulang2 dengan judul yang berbeda2 karena tujuan politis; bukannya jaman reformasi pun sudah lewat satu dekade. Kenapa masih ada mata kuliah yang tidak ada kaitannya dengan pendidikan tinggi? Walaupun hanya 2 kredit; nilai kredit ini dapat digunakan untuk kelas lainnya yang lebih menunjang profesi.

Mata kuliah pilihan: Agama. Sama dengan Pancasila; sudah diajarkan 12 tahun + biasanya dikirim oleh keluarga ke (pesantren kilat, sekolah minggu, les privat pengajian, kursus bible dll) karena budaya kita mengharuskan hal itu; kenapa masih di ajarkan secara resmi dengan nilai kredit?

Mata kuliah Olahraga / Seni; jumlah kredit sangat kecil (1) dan menurut saya sangat tidak relevan; karena: Seni harus diajarkan dalam mata pelajaran yang lebih jelas manfaatnya misalnya: Visual Arts atau Fine Arts atau Arts. Olah raga adalah kegiatan (aktifitas) murid bukan mata kuliah ber nilai kredit.

Tiga matakuliah itu saya pilih sebagai contoh. Didalam studi perbandingan kurikulum banyak mata kuliah lainnya yang juga tidak relevan untuk diberikan kepada murid sekolah ditingkat S1 (Bachelor); atau bahkan salah jurusan (harusnya diajarkan dijurusan lain).

Salah satu universitas mempunya model kurikulum yang memberikan siswa sedikit kebebasan untuk memilih sesuai dengan keinginan muridyang mirip dengan yang dipakai oleh MIT. Tapi kurikulum yang disediakan masih tidak terfokus kepada profesi. Contoh dari MIT dibawah ini:

Kurikulum di MIT (untuk: B Arch – Design)
1.   Persyaratan Dasar
a.   Science requirement
b.   Humanities, Arts, Social Sciences (HASS)
c.   Restricted Electives in Science & technology (REST)
d.   Laboratory requirement
2.   Persyaratan Komunikasi
a.   2 subject under HASS
b.   2 subject Communication Intensive - major
3.   Pra-syarat:
a.   Experiencing Architecture Studio
b.   Integrated Architecture Studio
c.   Integrated Architecture Design Intensive Studio
d.   Foundations in the Visual Arts for Majors
e.   Introduction to Building Technology
f.   Introduction to Design Computing
4.   Core Capability/Majors
a.   Applied Architecture Design Studio I
b.   Applied Architecture Design Studio II
c.   Applied Architecture Design Studio III
d.   Analysis of Contemporary Architecture, HASS
e.   Basic Structural Design, REST, Calculus (Persyaratan dasar Science)
f.   Introduction to the History and Theory of Architecture, HASS
g.   Advance Architecture Design Studio or 2 subject lainnya yang dipilih dari Core Capability lain dari jurusan Arsitektur.
Core Capability (Design, Building Technology, Computation, History/Theory/Criticism dan Visual Arts)

Bandingkan dengan kurikulum yang ada di Indonesia.

Yang ketiga adalah Organisasi. Yang terkait dengan organisasi ini adalah masalah sbb:
1.   Otoritas
2.   Dana
3.   Quality Assurance

Melihat kurikulum dari 2 universitas besar di Indonesia; keterlibatan Departemen Pendidikan dalam penyusunan kurikulum sepertinya hanya terjadi di kurikulum dasar. Karena terlihat adanya perbedaan jenis mata kuliah (yang menunjukkan perbedaan ‘warna’ dan sudut pandang intelektualitas ) yang diberikan pada pilihan ‘major’.

Artinya; terdapat kebebasan terbatas untuk universitas untuk menentukan arah pendidikannya. Soal ini memang juga menjadi masalah di negara2 lain selain USA. Masalah ‘full autonomy’ yang diminta oleh Universitas, sangat jarang dikabulkan oleh Departemen Pendidikan Negara manapun dengan gampang. Semua universitas mengalami debat dan tarik ulur yang panjang dengan Departemen Pendidikannya dimanapun juga.

Dep. Pendidikan dimana2 selalu beralasan untuk: menyeragamkan kualitas maka diperlukan materi pendidikan yang seragam. Ini adalah pendapat yang sangat salah dan hal hanya terjadi di sekolah militer, bukan sekolah sipil. Dan biasanya terjadi di negara2 yang pemimpinnya adalah junta militer, Negara komunis/sosialis atau dipimpin oleh dictator.

Penyetaraan kualitas pendidikan dapat umpamakan sama seperti 2 pabrik permen yang berbeda yang ingin mendapatkan sertifikat ISO yang sama; tidak diperlukan untuk mempunyai mesin yang identik dan menghasilkan permen yang identik bentuk dan rasanya. Permen coklat yang bulat dan permen mangga yang kotak bisa sama2 mendapatkan sertifikat ISO tanpa mesin yang identik. Apalagi Universitas.

Sertifikat kualitas dikeluarkan oleh lembaga independen lain dan bukan dari Dep. Pendidikan.  Jadi menurut saya; pendidikan yang berbasis pada kebutuhan dan kebudayaan setempat adalah wajib; tetapi kualitas harus lulus uji sertifikasi internasional.

Ini juga adalah masalah organisasi atau didalam perusahan2 ini adalah masalah manajemen. Sudah pasti juga terkait dengan biaya yang tersedia untuk mengembangkan universitas.

Masalah biaya. Di Asia rata2 biaya permurid dari univeritas2 yang tercatat dibuku World Class University, untuk sekolah teknik masih sangat rendah. Rata2 masih diantara: US$ 20,000 – US$ 35,000 / student. Bandingkan dengan MIT: US$ 216,000/student atau Harvard US$ 106,000/student.

Tapi harus dilihat juga, bahwa untuk menjadi universitas yang masuk dalam kategori World Class University adalah kemampuan universitas itu dalam memproduksi: citations. Dalam hal ini yang menjadi pertanyaan adalah: dengan mata kuliah yang sangat luas itu, yang menghasilkan murid2 yang mempelajari bobot teori yang besar; kenapa tidak bisa menghasilkan jumlah ‘citations’ yang cukup?

Didalam daftar 200 World Class University, ada 2 universitas dari India (Indian Institute of Technology Delhi dan Bombay) dan 1 dari Thailand (Chulalongkorn University) yang tidak mempunyai biaya besar. Kurang lebih sama dengan universitas2 di Indonesia.

Soal biaya, melihat struktur, kurikulum, fasilitas dll yang tersedia; dapat dipastikan dana per murid masih dibawah angka rata2 Asia.

Yang terakhir adalah mengenai Aktifitas murid dan guru. Aktifitas ini bisa dalam bentuk olahraga (tanpa nilai kredit) ; tapi juga bisa dilakukan dalam bentuk: forum2 diskusi, Open Source Computer Lab yang semuanya bisa diselenggarakan oleh Learning Resources Centre atau Study Tour (tanpa kredit) dll lagi yang menunjang kegiatan dan pemahaman profesi. Cadetship atau Internship sebaiknya juga di bantu oleh Student Support Centre atau Career Development Support Centre atau yang sejenis.

Kesimpulan saya sbb: pendidikan tinggi arsitektur Indonesia; sangat umum tidak fokus kepada profesi, mempunyai ambisi yang besar untuk memberikan pengetahuan yang seluas-luasnya.  

Karena saya bukan Education Expert; saya hanya bisa menitipkan pengamatan saya dari proyek2 yang saya kerjakan diseputar Asia. Melihat perkembangan yang terjadi diseputar Asia; tanpa reformasi pendidikan arsitektur Indonesia akan jauh ketinggalan dari negara2 tetangga kita.

Apakah kita akan sanggup mengejar ketinggalan dan mereformasi diri kita sendiri? Jawabannya ditangan anda semua.

Salam
Dian
« Last Edit: September 10, 2009, 06:13:56 pm by Dian Kusumaningtyas »

novan prayoga

  • Trade Count: (0)
  • Newbie
  • *
  • Posts: 3
  • Karma: +0/-0
Re: Pendidikan Arsitektur - Sekolah/Jurusan Arsitektur di Indonesia
« Reply #1 on: September 15, 2009, 11:18:07 am »
jadi siapa yang harus disalahkan? para pendahulu kita? apa sistem pendidikan di indonesia? sedih juga baca artikel ini mengingat saya juga lulusan kampus swasta dalam negeri.

salman

  • Trade Count: (0)
  • Newbie
  • *
  • Posts: 1
  • Karma: +0/-0
Re: Pendidikan Arsitektur - Sekolah/Jurusan Arsitektur di Indonesia
« Reply #2 on: September 28, 2009, 09:33:35 am »
ga perlu menyalahkan siapa2, lebih baik kita memperbaiki kualitas profesionalitas kita dan mengupgrade dengan pengetahuan terkini. kalau kita punya potensi dan kemampuan pasti kita akan dibutuhkan di mana saja, walaupun bukan lulusan Perguruan Tinggi Negeri atau Universitas terkenal. Sayang di Indonesia masih banyak terjadi diskriminasi almamater di tempat kerja,  padahal kinerja setiap orang tidak dapat dinilai dari almamater semata.   ;D

Dian Kusumaningtyas

  • Web Author & Editor
  • Trade Count: (0)
  • Newbie
  • *****
  • Posts: 49
  • Karma: +0/-0
Re: Pendidikan Arsitektur - Sekolah/Jurusan Arsitektur di Indonesia
« Reply #3 on: October 02, 2009, 07:37:03 am »
Terlampir komenntar yang ditujukan langsung ke saya dan saya cantumkan tanpa menyebutkan nama yang bersangkutan.

Komentar:
Yang saya heran dg pendidikan arsitektur ( termasuk yang world class rupanya) belum ada response mengenai isu lingkungan. Apakah tidak seharusnya dari semula mahasiswa di beri pemahaman bahwa membangun ( karya arsitektur)adalah intervensi terhadap keseimbangan lingkungan setempat yang bersifat sangat intensif dan sustain? Setiap besi,bata paku, semua bahan bangunan saja meninggalkan carbon footprint yang sangat besar dalam pembuatannya ( musti di hitung secar teliti dulu memang) . Belum dihitung proses membangun dan pengoperasian bangunan itu sendiri ( yang terahir ini bersifat sustain/ menerus dalam menghasilkan carbon footprint).
Kalau yang saya alami dan saya lihat sekarang perancangan arsitektur dalam pendidikannya disamakan dengan sekolah desain industri. karya rancangannya seolah berdiri diruang vacuum tak ada kaitannya dengan dunia nyata. Padahal karya arsitektur berdiri di suatu titk tetap yang tak tergantikan dimuka bumi ini.
Menurut saya, sebaiknya sebelum diajarkan untuk mendesain sesuatu mhs arsitektur harus diberi dasar ilmu lingkungan yang kuat. Pengetahuan lingkungan dimana karya arsitektur mereka kelak berdiri dan mengintervensi. Mungkin dua atau 4 semester. Didalamnya termasuk juga diajarkan untuk simulasi evaluasi apa yang terjadi ketika sebuah karya arsitektur dibangun dan dipakai. Tanpa ini ,para arsitek dimasa depan akan tetap menghasilkan karya Arsitektur yang punya masalah dengan lingkungan. Green Building hanya akan bersifat kuratif saja dimana mana, tidak filosofis.

Jawaban saya:
Sustainable di ajarkan pak. Cuma tidak kelihatan memang di mata kuliah tapi ada didalam detail dari mata kuliahnya. Kalau di MIT, sustainable muncul di: Persyaratan dasar, Prasyarat dan Core Capability (Applied Design).
Memang tidak muncul sebagai Mata Kuliah Khusus. Tapi integrated didalam Mata Kuliahnya.
Kalau dilepas sebagai Mata kuliah tersendiri; mungkin MIT tidak mau meluaskan jenis mata kuliah tapi mereka lebih ke sistem yang 'compact' ; integrated didalam mata kuliahnya. Detail dari mata kuliah berikut daftar buku (reference) yang harus dibaca mhswa tidak saya tulis disitu. Karena akan jadi terlalu panjang tulisan saya.
menurut saya MIT juga tidak membuat soal sustainable itu menjadi filosofis; karena itu diajarkan oleh sistem pendidikan di USA mulai dari TK. Pengenalan terhadap lingkungan tidak hanya di ajarkan di universitas; contoh: murid2 TK diajar membuang sampah yang benar; diajar untuk mengenal kertas re-cycled, botol re-cycle, mematikan lampu yang tidak perlu dll.
Sulit memang untuk melihat pendidikan itu dari Universitas saja. Karena pendidikan harus dilihat kesinambungannya. Kalau sudah begini.... kita terpaksa bicara soal Departemen Pendidikan kita yang tidak pernah punya visi.
Bagaimana jadinya caranya untuk mengembangkan arsitek2 anak2 muda jaman sekarang... ? Let it be ? Que sera sera? or In God we Trust ?

Komentar:
Ibu Dian,
Yah apa boleh buat. Soal sustainable memang kita harus meng "undo" dulu apa yang telah terjadi pada praktek arsitektur ribuan tahun sebelum ini.

Komentar saya:
Saya tidak setuju. Kesalahan selalu terjadi tapi perbaikan juga selalu terjadi.

Salam hormat saya untuk senior arsitek yang sudah memberikan komentar langsung kepada saya

Dian

stefanus

  • Trade Count: (0)
  • Newbie
  • *
  • Posts: 44
  • Karma: +1/-0
Re: Pendidikan Arsitektur - Sekolah/Jurusan Arsitektur di Indonesia
« Reply #4 on: February 01, 2010, 09:16:20 am »
setuju b Dian...
memang dalam sejarah, ada beberapa hal yang merupakan kesalahan karena "belum diketahui" dan "belum terpikirkan"... jika hal tersebut saat ini telah diketahui, saatnya untuk dilakukan perbaikan dan perubahan-2... bahkan jika menyangkut hal yang paradigmatis sekalipun...

Setelah sebagai pengajar di salah satu universitas swasta di Surabaya, saya bisa mengamati apa yang terjadi dengan masalah sustainable, green architecture, dan sejenisnya.
Saya sendiri, mungkin masih jauh dari sebutan "expert" ttg masalah tersebut, saya hanya mempelajari dari beberapa buku, situs inet.. saat saya kuliah, masalah tersebut "belum tersentuh" sama sekali.... 8)

Yang saya lihat, ada suatu kesenjangan antara teori dan praktek...
mereka yang mengajar dan "hobi" mengenai isu lingkungan, mayoritas bukan praktisi - sedang para praktisi, sering memandang sebelah mata isu lingkungan ini...
bagi saya, justru sebenarnya arsitek wajib mencari segala sesuatu yang lebih efisien, lebih bermanfaat, lebih menghemat SDA, lebih "low cost maintenace & operational" - termasuk hemat enerji, yang memang "sejalan" dengan isu lingkungan..
segala sesuatu dimaksud bisa dalam disain bangunan, disain sistem, penggunaan bahan, metode pelaksaan yang ter-rencana integrated dengan disain, dst...
sehingga bukan cuma enerji dihemat, tapi bahkan ke hal sepel  yang paling sering diabaikan, misalnya sistem dan efisiensi penggunaan formworks - yang setelah konstruksi selesai akan menjadi penghuni TPA (tempat pembuangan akhir sampah)...

di pihak praktisi, yang seharusnya justru bisa memberika masukan berarti, justru sering dalam benak mereka terpatri bahewa arsitektur yang sustainable adalah arsitektur "mahal" yang sangat tidak layak "jual"....
suatu contoh sederhana - green roof deck.
jika mengikuti standar baku, sebenarnya antara dek "biasa" (tanpa green roof) biaya pembangunannya hanya terpaut tidak terlalu banyak dengan green roof deck.
tambahan yang diperlukan, sebenarnya hanya :
1. Perkuatan tulangan, yang secara berat nyaris sama - karena bisa menggunakan baja mutu tinggi (U27 untuk dek biasa, dan U40 atau U50 untuk green roof) - yang harga perkilo bahannya hanya beda beberapa puluh rupiahsaja (tidak sampai 2.5%)..
2. Penambahan lapisan metal khusus, yang berfungsi sebagai reservoar sementara air siraman taman - untuk "dihisap" akar kembali saat diperlukan, sekaligus sebagai media penahan / barrier agar beton tidak rusak ditembus jarum akar tanaman..
3. Pelapisan waterproofing dan screed, seharusnya juga wajib dilakukan pada non-green roof deck - suatu hal yang jarang dilakukan di Indonesia (kecuali bangunan-2 besar)...jadi hal ini - yang memang mahal biayanya - sebetulnya tidak bisa dianggap sebagai tambahan biaya..

ini hanya contoh-2 kecil...]
Bagaimanapun memang isu lingkungan harus di tindaklanjut'i..
Sangat naif, jika ada arsitek yang bersikap "masa bodoh" dengan isu dimaksud, bahkan "anti" gerakan sustainable (ada sahabat saya, arsitek pula yang begitu) - denagn segudang alasan..

Bagi saya, isu lingkungan, sustainable seharusnya justru membuka "kesempatan" terhadap apa yang selama ini belum pernah dimasuk'i oleh para arsitek indonesia, entah dari segi teknis, sistem dalam bangunan, ataupun tampilan-2 yang sama sekali baru..

salam,
stf

Dian Kusumaningtyas

  • Web Author & Editor
  • Trade Count: (0)
  • Newbie
  • *****
  • Posts: 49
  • Karma: +0/-0
Re: Pendidikan Arsitektur - Sekolah/Jurusan Arsitektur di Indonesia
« Reply #5 on: February 03, 2010, 02:39:40 pm »
p'stefanus yb,

Barusan ini saya mengerjakan dua universitas lagi... start dari nol. Absolute nol... nothing at all. Jadi mulai dari organisasinya sampai gedungnya di kerjakan bersama oleh 9 orang perencana (Economic, Governance, Education, Masterplaner/Architect (saya) sampai ke Quality Assrnce). Pengalaman saya selama mengerjakan ini... setiap saya mulai menggambar.. saya merinding...setiap saya mulai membaca data.. bulu kuduk saya berdiri... it is an amazing feelings... Persiapan pendidikan untuk suatu bangsa dan saya terlibat disana. Kadang2 saya tidak bisa berdiri karena tulang2 saya rasanya leleh... minggu lalu saya tidak sanggup bicara di presentasi karena suara saya hilang karena saya menangis...

It is amazing... to prepare education facilities from scratch.... Mudah2an bulan September/October 2010 - sudah bisa dimulai batu pertama yang akan di letakkan oleh 2 kepala negara.

Karena kegiatan saya itu; saya berhubungan dengan bebrapa ahli pendidikan. Saya mendengarkan banyak hal termasuk sejarah dan situasi yg terjadi di USA saat ini dan reformasi pendidikan Obama (Obama plan).

Kesenjangan antara pendidikan dan praktek itu banyak terjadi dimana2. Singkatnya - disinilah seharusnya lembaga (Institute) profesi berperan. Karena memang pendidikan itu harus fokus pada pengembangan keilmuan-nya. Sedang lembaga profesi harus fokus kepada pengembangan professional education.

Disini yang saya lihat kita masih terputus. Saya masih mendengar banyak arsitek yang sudah diluar kampus memandang/ melihat para ilmuwan di kampus sebelah mata dan sering mengatakan bahwa mereka cuma akademisi atau cuma theorist.

Ini suatu pendapat yang sangat salah. Saya beri contoh: Pritzker Award Laureate. Silahkan sebut namanya. Yang mana yang tidak punya gelar akademik setingkat S3? Tidak ada.... semuanya punya. Apakah mereka betul2 masuk kampus dan mengerjakan disertasinya/researchnya? Jawabnya: yes... absolutely. Kan research bisa inside and outside campus + bimbingan selama penulisan disertasi didalam kampus yang mandatory.

Satu hal yang harus dipahami betul adalah; sebaik apapun (menurut siapapun juga, boleh si arsitek sendiri, media maupun teman2nya) sebuah karya arsitektur; tanpa pembahasan atau pengupasan design berdasarkan Theory, History dan Criticism yang dilakukan oleh akademisi yang melakukannya dengan struktur pembahasan akademik yang benar; maka kabar buruknya untuk para praktisi adalah: karya anda tidak bernilai apapun juga... your creation is nothing... 

Menurut saya; profesi yang seharusnya sangat dekat hubungannya antara praktisi dan akademisi itu adalah arsitek dan arsitektur. Karena semua hasil karya arsitektur dari seorang arsitek harus dapat dikupas dalam 'frame' akademik setiap saat.

Kalau diluar negeri yang kemudian sering terjadi adalah 'intellectual war'. Biasanya perusahaan2/pribadi2 besar membayar team akademik untuk mengupas design mereka dan menulisnya/mem-published dengan terms yang friendly tapi dalam frame judgement yang intelectually correct. Tapi.... kalau proyek itu kontroversial biasanya perusahaan yang lain akan muncul dengan team akademik mereka juga dan membahas proyek itu dengan terms yang 'not friendly'  sometimes 'nasty and cunning' dan di published juga dengan theory2 yang intelectually juga correct. Yang jelas perusahaan2/pribadi2 itu menyerahkan penilaian design mereka kepada ahlinya (dalam hal ini adalah para: akademisi) dan tidak ada yang mau salah penilaian (artinya: tidak mengerti theory/sejarah/filosofi dll dengan baik).

Makanya antara sekolahan dan praktek biasanya terjembatani. Saya pribadi punya beberapa teman baik akademisi yang kuat diluar indonesia. Dimana kalau saya 'stuck' atau 'my brain turn to kecambah or singkong bakar'... saya mencari mereka untuk ''recharging my battery'.  8)

Sustainable secara akademik diajarkan resmi di USA. Ada yang integrated misalnya: Green Chemistry (instead of Chemistry) ada yang terpisah. Tapi khusus di building ada US Green Building Council yang punya pendidikan professional yang terarah seperti: LEED.  Ada universitas yang jurusan arsitektur dan urbannya sudah ganti nama jadi: Faculty of Sustainable Development.

Saya setuju sekali kalau issue lingkungan sudah menjadi komoditi untuk 'new approach to design'. Memang buktinya sudah begitu... at least dibelahan dunia yang lain.

Di Indonesia sudah berdiri: IGBC; saya belum tau sudah sampai dimana kegiatannya. Menurut saya sudah seharusnya lembaga pendidikan dan profesi sama2 mengerjakan issue ini sesuai dengan fokusnya masing2.

Salam
Dian

Catatan:
Saya jadi ingin membuat daftar komentar yang sering saya dengar di Jakarta.

Sustainable - tidak perlu
Traditional - kuno... tidak keren
Futuristic - mahal... ga mungkin ...
Minimalism - 'sok Ando'... dah ga jaman
Transparant - panas lagee... memangnya di Europe
Non straight angle - 'sok Liebeskind ahhh'... strukturnya susah... jatuhnya mahal..
organic ala gehry - titanium mahal bangetttt... ga mungkin...
organic ala herzog, zaha, toyo ito dll - udah banyak yang bikin.... ga lucu..

Hmmm... sudah adakah arsitektur indonesia? I wonder....



« Last Edit: February 03, 2010, 02:44:58 pm by Dian Kusumaningtyas »

stefanus

  • Trade Count: (0)
  • Newbie
  • *
  • Posts: 44
  • Karma: +1/-0
Re: Pendidikan Arsitektur - Sekolah/Jurusan Arsitektur di Indonesia
« Reply #6 on: March 20, 2010, 09:09:26 pm »
bu Dian yth,
memang dunia pendidikan arsite di indonesia ini cukup membingungkan..
ada semacam tendensi, se-olah-2 arsitek adalah "superman" yang bisa mengatasi segala..
kalau memang dibekali demikian ok lah, nggak apa-2..
tapi hal tersebut ditanamkan, dengan "urang" memberi bekal, kalau tidak disebut "nyaris tanpa bekal untuk berparaktek di dunia nyata"....
selalu yang ditekankan adalah gegap gempita si arsitek top, extravaganza bangunannya...
tapi kasus seperti Gehty yang didenda karena salah dalam dokumen kerja, nyaris tidak terbahas..... entah karena tidak paham (hanya akademisi dan teoritis) atau "tanggung jawab profesi" tidak dipandang hal yang urgent dan perlu  ???

dari pengalaman saya menangani beberapa bangunan publik / komersial, saya akhirnya mengerti, bahwa arsitek, harus dan wajib bekerja-sama dengan berbagai disiplin ilmu yang spesifik... bekerja sama dengan berbagai institusi lain...
suatu contoh..
1. mall, ternyata konsep bukan dibuat arsitek, tapi dibuat oleh bagian marketing..
arsitek menterjemahkan konsep tersebut agar "match" dengan konsep penjualan, dan juga selaras dg pola "building operational management" (ergantung operator mana)....
selain itu, masih harus bekerja sama dengan berbagai institusi lain, entah finansial, ahli lingkungan, transportasi, dll..dll...
2. airport, ternyata harus selaras dengan sistem operasional, dan terlebih saat ini - dimana ancaman teroris telah mendunia - faktor safety menjadi prioritas nomor 1, 2 dan 3...arsitek juga wajib memahami tipe-2 pesawat yang lagi "mode", akan menjadi "mode", dll....
arsitek wajib menselaraskan sistem safety / prosedur pengamanan ala "lokal" dg sistem TSA, yang digunakan sbg standar audit international airport.. karena kalau tidak lulus, dinyatakan sebagai airport "tidaklayak untuk penerbangan internasional" (padahal dimaksudkan untuk itu) tentu kerugiaan yang akan diderita sulit dikalkulasi lagi...
3. saat ini, di indo sendiri banyak pola investasi dengan sistem BOT (Build, Operate, Transfer), dimana developer dalam sekian puluh tahun, akan mengembalikan seluruh investasinya ke pemerintah, selain bangunan, peralatan, termasuk SDM nya juga - dan sistem manajemen operasionalnya sekaligus..
hal ini menuntut seorang arsitek memahami feseability study, proses dan sistem konstruksi yang hemat waktu tanpa mengurangi kualitas, pemakaian bahan yang optimal, sistem operasional yang efisien (al, BAS - Buildig Automated System), perlatan yang bisa integrated, dan addresibel, aksesibel dengan sistem yang dipakai..
juga wajib memahami proses investasi, pentahapan pembangunan, kapan saat dijual, kapan saat operasional, agar pengembalian investasi, sesuai dengan rencana jangka panjang developer yang sudah disetujui oleh Bank Pendukung...

itu hanya sekelumit contoh yang signifikan, yang sering dilupakan - bahkan oleh arsitek terkenal sekalipun..
di surabaya sendiri, sudah ada bbeberapa contoh bangunan yang "bisa dikatakan salah disain", hingga recana ROI developer boleh dkata "gagal total" (tidak laku, karena disain "salah pakem", bahkan kalau mengacu ke textbook !!!)..
ada juga bangunan yang sangat tidak efisien, tidak mem "provide" akan kebutuhan pengunjung, sehingga ketika ada pemasangan ATM (yang saat ini merupakan salah 1 kebutuhan absolut di bangunan komersial) - membuat tampilan bangunan jadi "aneh"..
dan bangunan ybs ternyata juga jurang memperhitungkan soal "fesh air sipply" - pengunjung yang perkir di basement 2 akan merasa "tercekik" karena kurang oksigen...
ini suatu kenyataan, bukan hikayat dongeng..

saya memang tidak mungkin menunjuk langsung di sini, karena justru oleh arsitek beken...
nah, yang saya tahu, justru arsitek ybs sering diundang memberikan "ceramah ilmiah", share pegalaman di berbagai universitas / lembaga pendidikan arsitektur yang beken..
lha mau jadi apa yang di beri "ceramah ilmiah" dan Share dari kualifikasi semacam itu ????

beda benar dengan apa yang di alami oleh seorang gehry, di atas....

PANJI28AKBAR

  • Trade Count: (0)
  • Newbie
  • *
  • Posts: 4
  • Karma: +0/-0
Re: Pendidikan Arsitektur - Sekolah/Jurusan Arsitektur di Indonesia
« Reply #7 on: December 12, 2010, 03:35:03 pm »
saya sebagai murid smkn 6 bandung, jurusan teknik gambar bangunan keberatan atas kurikulum saat ini.
saya ingin banyak mendapatkan ilmu tentang bangunan, agar cita - cita saya tercapai.

novriko

  • Forum Administrator
  • Trade Count: (0)
  • Sr. Member
  • *****
  • Posts: 345
  • Karma: +3/-0
  • Admin Web
Re: Pendidikan Arsitektur - Sekolah/Jurusan Arsitektur di Indonesia
« Reply #8 on: December 13, 2010, 08:49:21 am »
kurikulum SMK-nya ?
Jenius adalah 1 % inspirasi dan 99 % keringat. Thomas A. Edison
Forum khusus pengurus | Alamat Sekretariat IAI

arniwahyuningtyas

  • Trade Count: (0)
  • Newbie
  • *
  • Posts: 1
  • Karma: +0/-0
Re: Pendidikan Arsitektur - Sekolah/Jurusan Arsitektur di Indonesia
« Reply #9 on: May 10, 2011, 05:44:10 pm »
bu dian, saya tertarik dengan artikel yang ibu tulis mengenai fasilitas-fasilitas untuk kampus arsitek..
artikel ini berkaitan dengan tugas akhir saya..
bu mohon bantuanya..adakah literatur tentang standart perencanaan untuk kampus arsitektur?

sebelumnya terimakasih bu

Dian Kusumaningtyas

  • Web Author & Editor
  • Trade Count: (0)
  • Newbie
  • *****
  • Posts: 49
  • Karma: +0/-0
Re: Pendidikan Arsitektur - Sekolah/Jurusan Arsitektur di Indonesia
« Reply #10 on: May 10, 2011, 11:57:36 pm »
Bukan literature yang saya punya, tapi hasil survey yang dilakukan oleh suatu perusahaan arsitektur (dengan spesialis team Higher Education mereka) terhadap kira2 - 10 universitas yg memiliki jurusan arsitektur.

 

anything