Author Topic: Pendidikan Arsitektur - Pendidikan Profesi Arsitektur  (Read 6038 times)

hendrajaya

  • Moderator
  • Newbie
  • *****
  • Posts: 3
  • Karma: +0/-0
Pendidikan Arsitektur - Pendidikan Profesi Arsitektur
« on: January 08, 2010, 01:26:54 am »

Membaca email dlm diskusi di milis IAI, jadi terpikir untuk memposisikan ulang PPArs dlm tahapan skema jalur profesional IAI.

"Di Australia mahasiswa akan menjadi arsitek setelah belajar 3-2-2 (3 tahun sarjana muda, 2 tahun magang, 2 tahun pendidikan profesi)."

Dengan menempatkan PPArs setelah mengikuti program magang (min 1 thn misalnya) rasanya akan memberikan bbrp manfaat.
1. Lulusan baru diberi kesempatan mengenal dunia nyata sblm mengikuti pendidikan profesi sekaligus memantapkan 'minat' sbg ars.
2. Kurikulum PPArs akan lebih 'berisi' krn peserta didik sdh berpengalaman kerja. Ini jg akan mendorong kebutuhan Dosen Praktisi sbg pengajar PPArs.
3. Sertifikasi (SKA) bisa direkatkan dgn PPArs pd bgn akhir pendidikan profesi sbg pelengkap ujian akhir PPArs. Namun mungkin lebih pas jika sertifikasinya tdk lg berbentuk self assesment tp ujian. Hal ini dikombinasikan dgn UU Ars, akan memberikan kepastian gelar bagi lulusan PPArs sbg 'Arsitek'. Sbg konsekuensinya sudah mengikuti program magang IAI selama 2000 jam hrs menjadi persyaratan peserta PPArs.

Untuk menjalankan ini semua kita akan membutuhkan sistem yg mapan agar verifikasi data dan proses magang dpt terekam dgn baik.
Kemudian kerjasama dgn PTS/PTN dlm menyusun kurikulum PPArs dan kurikulum Magang yg tepat berkesinambungan.

steve jm
From: Jusup Sukatendel <jusup.sukatendel@alumni.unimelb.edu.au>
Date: Mon, 4 Jan 2010 14:20:49 +0700
To: <iai-architect@yahoogroups.com>
Subject: Re: [iai-architect] Re: [forum AMi] masa studi S1 - dan gelar S.Ars

 
dengar-dengar Jerman akan terapkan juga sistem pendidikan 3 tahun.
Selain itu gymnasium (sekolah sebelum universitas) yang tadinya total 13 tahun akan disesuaikan menjadi hanya 12 tahun juga. Penyetaraan masa pendidikan menjadi 12-3-1(2)-3 (Pendidikan Dasar-Sarjana-Master-Doctor) menjadi trend global juga nih.

Saya pikir kita gak perlu terlalu kuatir dengan pendidikan Sarjana 3 tahun. Masih ada pendidikan profesi untuk lebih memperlengkapi mahasiswa ketika memutuskan masuk dunia profesi arsitek dan orang-orang yang ternyata salah jurusan masih punya banyak waktu untuk tukar haluan ke jurusan lain.
Philip Johnson hanya belajar desain arsitektur selama 3 tahun juga.

Justru dengan 3 tahun di sekolah maka peroses Univesty of Life menjadi lebih penting. Belajar di dunia nyata, bukan di bangku kuliah.

Di Australia mahasiswa akan menjadi arsitek setelah belajar 3-2-2 (3 tahun sarjana muda, 2 tahun magang, 2 tahun pendidikan profesi). Belum lagi menyinggung kalau 1 semester, mahasiswa hanya belajar 3 sampai 4 mata kuliah saja.

Jadi walau pendidikan kita menjadi 3 tahun, skema menjadi arsitek profesional tetap memberlakukan pendidikan profesional. Universitas atau Institusi di Indonesia penyelenggara pendidikan profesional hanya akan menyelenggarakan pendidikan profesional berdasar akreditasi dari institusi profesi (seperti IAI).

salam,
Jusup Sukatendel

----- Original Message -----
From: tanti suprapto
To: iai-architect@yahoogroups.com
Sent: Monday, January 04, 2010 1:46 PM
Subject: Re: [iai-architect] Re: [forum AMi] masa studi S1 - dan gelar S.Ars

Terus terang, makin malas saja datang ke Diknas untuk
menterjemahkan dan bikin persamaan ijasah.
Dengan 172 sks, murni tanpa mata kuliah dasar umum,
matematika dan hal yang nggak penting buat arsitektur
lainnya, 10 thn yg, cuma mau disamain dengan Diploma
(bukan S1) cuma karena gelarnya Dipl.-Ing. Well, mungkin
memang tidak penting untuk buat persamaan.
Sekarang S1 arsitektur mau di pangkas jadi 122 sks? Dapet
apa aja di bangku kuliah? Bagaimana kulitasnya?
Saya termasuk orang yang lebih memlilih learning by doing,
semuanya harus melalui proses. Makin lama proses makin
baik hasilnya. Dan universitas terbaik adalah University
of life.
Maaf, saya cuma orang awam. Mereka yang bikin
kebijaksanaan itu mungkin lebih mengerti maksud dan
tujuannya.

salam,
tanti

On Mon, 4 Jan 2010 08:02:41 +0700 (WIT)
"[Ferdy MAD]" <guzghul@indosat.net.id> wrote:

> Mas Juhara,
>FYI, anak saya masih kuliah di AR-ITB, langsung masuk AR,
>tidak melalui TPB 1 tahun itu...
>
> Lagipula kalau pun benar bahwa "...Depdiknas akan
>memberlakukan peraturan baru
> mengenai masa studi untuk S1, ...dipangkas dari 144 sks
>menjadi 120 sks...", kan berarti akan berlaku juga untuk
>UI, UGM, ITS dan PT2 lainnya, bukan cuma ITB...
>
> Oh ya, ngomong2 dulu di forum ini juga pernah ramai
>dibicarakan mengenai gelar S.Ars untuk lulusan S1
>Arsitektur di Indonesia...., tapi diskusinya berhenti
>karena ada anggota yang menjanjikan bahwa akan ada
>jawaban untuk hal ini. Apakah sudah ada kepastian
>penggunaan gelar S.Ars itu ?
>
> Have a productive week!
> [Ferdy MAD]
>
> Re: [forum AMi] masa studi S1
> Posted by: "Ahmad Djuhara" djuhara@gmail.com djuhara1966
> Mon Dec 28, 2009 8:54 pm (PST)
>
> Pak Apep,
>
> Bagaimana dengan ITB?
> Masihkah pakai TPB 1 tahun?
> Kalau begitu kuliah arsitekturnya cuma 2 tahun?
> Studio maksimal 3 semester lalu Tugas Akhir?
> Apakah bisa?
>
> Maaf, bukan dengan maksud menyudutkan ITB, tapi hal ini
>saya dengar sendiri dari para senior
> lulusan ITB yang langsung gentar mendengar rencana
>tersebut.
>
> Kita juga perlu gentar mendengar 100 PT Arsitektur yang
>lain di Indonesia yang studionya kurang dari 30 SKS.
> Belum lagi kalau melihat para pengajarnya yang, mohon
>maaf, harus dibilang dibawah standar yang baik,
> kurang wawasan, bacaan, bahkan tidak percaya dengan
>profesi arsitektur!
> PT Arsitektur itu menghasilkan arsitek atau pengajar
>arsitektur? Atau teoritisi arsitektur? Atau campuran?
> Yang mana yang wajib? Arsitek yang mengajar atau
>Pengajar yang nyambi jadi arsitek?
> Apakah profesi arsitek bisa disambi dengan pekerjaan
>lain? (Saya pernah baca:"yaaa,kadang-kadang masihlah saya
>mendesain sedikit-sedikit")
> Apakah profesi arsitek bisa dikategorikan sebagai
>profesi yang berkekuatan hukum (punya 'liability" atau
>bisa dituntut pertanggungjawabannya?).
> Siapa dan bagaimana arsitek yang bisa dituntut dan mana
>yang tidak bisa?
> Apakah profesi arsitek itu mestinya "regulated
>profession"?
> Bagaimana dengan profesi Arsitek Lansekap dan Desainer
>Interior - apakah mereka juga "regulated profession"?
> Apakah Arsitek bisa jua berprofesi menjadi Interior
>Desainer dan Arsitek Lansekap? Apa dasarnya?
>
> Kita perlu mulai lagi perdebatan dan polemik tentang
>Pendidikan S1 Arsitektur,
> apakah meluluskan sarjana yang arsitek, sarjana
>arsitektur, atau calon arsitek yang perlu magang lagi?
> Atau kita mau buat sistem sendiri?
> Siapakah yang berhak menentukan sistem itu?
> Asosiasi profesi?
> Pemerintah? (Pemerintah juga yang mana? Apakah mereka
>mengerti profesi arsitektur?)
> Perguruan Tinggi? (Apakah perguruan tinggi perduli
>kompetensi yang dibutuhkan untuk standar profesi?)
> Apakah kita punya visi ke depan untuk penyetaraan
>profesi (Bilateral, ASEAN, Asia, APEC, ARCASIA,
>Commonwealth, UIA).
> Bagaimana penyetaraan pendidikan arsitektur di
>Indonesia?
> Apa parameternya? (Semua kan sudah melek internet? Tapi
>kalau semua diminta presentasi apresiasi arsitektur Peter
>Zumthor seperti Goenawan Mohammad kemarin di ultah 50
>tahun IAI, apa bisa? Jangan-jangan yang hadir tidak
>pernah tahu siapa itu Peter Zumthor.. Agak keterlaluan
>kalau tidak tahu!)
>
> Maaf, mungkin saya terlalu banyak mempertanyakan situasi
>saat ini..
> dan mempertanyakan tingkat pikir anda semua - di mana
>posisi anda sekarang?
>
> Salam,
> Juhara
>
> ----- Original Message -----
>From: Achmad Tardiyana
> To: forumami@yahoogroups.com
> Sent: Tuesday, December 29, 2009 10:54 AM
> Subject: [forum AMi] masa studi S1
>
> mas Ariko,
> Australia sudah menerapkan program 3+2. saya tidak
>terlalu khawatir dengan kebijakan ini, malah mungkin
>lebih efektif mengingat lulusan S1 hanya sekitar 10% saja
>yang bekerja sesuai dengan jalur pendidikannya. Jadi bagi
>yang berminat menjadi arsitek profesional bisa digodok di
>level master selama 2 tahun jadi sesuai dengan yang
>disyaratkan UIA.
>
> apep


 

sj manahampi to Martinus, Ahmad, David, me


Mksdnya direkatkan itu secara pentahapanya saja, bukan secara kewenangannya.

Jadi Ujian Sertifikasi SKA itu jadi semacam UN dan Dewan Arsitek yg jd Diknas nya. PT sama sekali tdk berhak membuat ujian sertifikasi sendiri.

steve jm
From: djuhara@gmail.com
Date: Tue, 5 Jan 2010 02:08:47 +0000
To: IAI Jkt 2 Stevanus J Manahampi Steve<sjmanahampi@gmail.com>; IAI Jkt 2 OPUS78 Martinus Reynaldi Izaak<martinusizaak@yahoo.com>; IAI Jkt 2 UPH D U94 David Hutama<ginadi@gmail.com>
Subject: Fw: Skema Jalur Profesional IAI

Sertifikasi (SKA) bisa direkatkan dgn PPArs ?

Hati2 dg pernyataan ini, karena semestinya PPAr tidak mengeluarkan SKA. PPAr ada batas otoritas PT Arsitektur.

SKA adalah otoritas DKA, nantinya Dewan Arsitek, bukan otoritas akademik. Perlu juga diperhatikan keberadaan Magang 2th sbg prasyarat SKA.

Jadi yg sempurna mnrt gw SKA itu hanya bisa diambil setelah magang, yg prasyaratnya sudah hrs berpendidikan undergrad arsitektur 5 tahun. Terlepas dari mau 4+1, 3+2, atau ada parameter lain, itu nanti yg menentukan adalah Dewan Arsitek.

Salam,
Juhara

From: "sj manahampi" <sjmanahampi@gmail.com>
Date: Tue, 5 Jan 2010 01:47:25 +0000
To: David Hutama<ginadi@gmail.com>; Hendrajaya Isnaeni<hendrajayaisnaeni@gmail.com>; Ahmad Djuhara<djuhara@gmail.com>
Subject: Skema Jalur Profesional IAI



djuhara@gmail.com to IAI, IAI, IAI, me

Sipp.

Juhara



From: "sj manahampi" <sjmanahampi@gmail.com>
Date: Tue, 5 Jan 2010 02:47:11 +0000
To: Ahmad Djuhara<djuhara@gmail.com>; Martinus Izaak<martinusizaak@yahoo.com>; David Hutama<ginadi@gmail.com>; Hendrajaya Isnaeni<hendrajayaisnaeni@gmail.com>
Subject: Re: Skema Jalur Profesional IAI
-
 
 

hendrajaya to sjmanahampi, David, Ahmad
show details 07:44 (16 hours ago)

Ada masalah psikologis yang bisa terjadi kalau program PPArs dilakukan setelah magang 2 tahun yaitu keengganan untuk kembali belajar di kampus, apalagi jika selama 2 tahun sudah telibat penuh dengan kegiatan profesi dalam arti kata sesungguhnya yaitu bertemu klien, rapat koordinasi, pengawasan berkala di lapangan. Kurikulum program PPars rasanya tidak akan bisa mencakup seluruh kondisi praktis yang terjadi di lapangan.
Program PPArs lebih tepat sebenarnya dilihat sebagai program pembekalan ilmu dasar lapangan, sebab begitu bervariasinya kurikulum S1 diantara perguruan tinggi penyelenggara pendidikan arsitektur, ada yang menitik beratkan kepada teori ada juga yang ke ketrampilan praktis arsitektur. Sudah banyak yang mengeluhkan bagaimana tidak siapnya para lulusan S1 pada saat memasuki dunia kerja.
Dengan demikian program PPArs berfungsi sebagai jembatan penghubung antara dunia akademik dan dunia profesi. Disinilah bergabungnya para dosen dari kalangan akademis dan dosen dari kalangan praktisi arsitektur. Seperti dalam mata ajaran Pengantar Arsitektur di tahun pertama pendidikan S1, kita diberi pemandangan dan gambaran apa sebenarnya arsitektur itu. Di program PPArs mahasiswa diberi gambaran mengenai dunia profesi, liku2nya dan aturan mainnya. Disini mahasiswa baru melihat apa yang terjadi didunia praktek arsitektur, mereka belum menyentuh atau melakukan praktek arsitektur. Nah setelah mereka lulus dan magang , barulah mereka menyentuh, merasakan semua aroma yang ada didunia nyata dan juga melakukan latihan apa yang dilakukan oleh para arsitek sebenarnya.
Saya melihat ada bagusnya program 3+2+2 lepas dari pro kontra penurunan sks menjadi 120 untuk S1. Menyadari banyaknya keluhan tidak siap pakainya lulusan S1 dengan jumlah sks 144 secara logika praktis kita menyimpulkan bahwa para lulusan baru ini perlu pengasahan lebih lanjut hingga mereka bisa menjadi pisau yang bisa dipakai untuk motong, bukan pisau pajangan yang hanya menampilkan mengkilapnya stainless steel. Dengan demikian program PPars yang sampai saat ini hanya berlangsung 1 tahun, punya kesempatan untuk bisa mematangkan dan mengasah mahasiswanya selama 2 tahun untuk bisa memiliki kompetensi dasar praktis arsitektur. Secara sederhana dapat kita katakan bahwa program S1 adalah pembekalan teori arsitektur, program PPArs pembekalan praktek arsitektur, dan pemagangan adalah pelatihan praktek arsitektur.

hendrajaya






djuhara@gmail.com to IAI, hendrajaya, me, IAI, IAI
show details 08:12 (16 hours ago)
Saya tercerahkan dg penjelasan Pak Hendrajaya. Saya kira sebuah penjelasan yg jernih & bisa dicopy paste langsung sebagai sikap resmi IAI dalam website?

Juhara

From: hendrajaya <hendrajaya@arkitekton.com>
Date: Thu, 7 Jan 2010 07:44:15 +0700
To: <sjmanahampi@gmail.com>
Cc: David Hutama<ginadi@gmail.com>; Ahmad Djuhara<djuhara@gmail.com>
Subject: Re: Skema Jalur Profesional IAI

david hutama to hendrajaya, Ahmad, Steve, Martinus
show details 09:43 (14 hours ago)

Sebenarnya saya jadi bingung karena rasanya ada pergeseran definisi dan posisi dari program PPArs ini. Mungkin saya yang salah tangkap.

Saya masih merasa (juga dari apa yang saya tangkap hasil percakapan beberapa kali dengan Pak Sandi) bahwa PPArs itu adalah program transisi inisiatif IAI untuk mengisi kekosongan program 5 tahun pendidikan arsitektur. Oleh karena itu seharusnya PPArs tidak dilihat sebagai bagian baru dalam runtutuan pendidikan arsitektur s1 (seperti : s1 teori lalu PPArs, pendidikan praktis profes, dsb). Bagi saya pendidikan arsitektur itu pada dasarnya berORIENTASI pada profesi arsitek namun tidak berarti harus menjadi arsitek. Oleh karena itu pemenggalan tersebut jadi aneh.

Sepengetahuan program seperti PPArs itu tidak ada ditempat lain. Adanya adalah pilihan untuk menyelesaikan program undergradute; sarjana jalur profesional atau sarjana jalur biasa. Namun pilihan ini tidak terpisah/terpenggal melainkan terintegrasi dalam satu runtutan program s1. Pemisahan program profesional terjadi jika program tersebut dicangkokan ke dalam program magister.

Jadi saya bisa mengerti pendapat Pak Hendrajaya tentang keengganan psikologis tersebut jika yang diletakan terpisah adalah PPArs seperti sekarang. Namun rasanya juga harus dipertimbangkan posisi PPArs sebagai program transisi tersebut. Saya belum/tidak tahu jika memang IAI atau pihak2 lain memposisikan PPArs ini tidak lagi sebagai program transisi namun memang program 1 tahun tambahan terpisah.

Maaf jika ada salah2 kata.

David


e to djuhara, hendrajaya, me, IAI, IAI
show details 10:44 (13 hours ago)

pak jaya, di-posting di forum iai (iai.or.id > forum) juga supaya bisa menjangkau lebih luas .. salam, e.



From: "djuhara@gmail.com" <djuhara@gmail.com>
To: hendrajaya <hendrajaya@arkitekton.com>; IAI TPAK Hendrajaya Isnaeni <hendrajayaisnaeni@gmail.com>; IAI Jkt 2 Stevanus J Manahampi Steve <sjmanahampi@gmail.com>; IAI Nas JKT4 TAD Endy Subijono <esubijono@yahoo.com>
Cc: IAI Jkt 2 UPH D U94 David Hutama <ginadi@gmail.com>
Sent: Thu, January 7, 2010 8:12:03 AM
 

hendrajaya to sandi, david, Ahmad, Steve, Martinus

Memang betul bahwa program PPArs yang mulai dimulai secara resmi sejak rakernas awal tahun lalu adalah sebenarnya semacam strategi untuk memenuhi standar UIA yang mewajibkan pendidikan arsitektur 5 tahun ditambah 2 tahun magang sebelum menjadi arsitek profesional. Sementara itu pendidikan S1 yang ada adalah 4 tahun, yang nantinya berubah lagi menjadi 3 tahun. Pak Sandi memang berulang kali mengatakan bahwa pengertian pendidikan 5 tahun seharusnya dilihat dari tahun pertama sampai tahun ke lima terus menerus dan terintegrasi bukan di penggal penggal. Saya rasa semuanya tidak ada yang menyangkal pengertian ini. Tapi masalahnya kita dihadapi pada kondisi yang tidak bisa dihindari yaitu persyaratan UIA (5 tahun pendidikan) disatu pihak dan 4 tahun pendidikan S1 menurut aturan DIKNAS. Kemana para lulusan S1 harus sekolah kalau mereka berniat menjadi seorang arsitek profesional yang diakui secara internasional. Mereka bisa saja mengambil program master yang diadakan oleh perguruan tinggi, tapi lagi lagi DIKNAS membuat aturan bahwa program master minimal 36 sks yang dilaksanakan dalam 2 tahun, padahal untuk program profesi cukup dibutuhkan 24 sks yang bisa dilkukan dalam 1 tahun. Beruntunglah untuk mereka yang sanggup membayar biaya pendidikan master selama 2 tahun, mereka bisa langsung melakukan pemagangan 2 tahun sebelum mendapat sertifikat profesional. Tapi bagaimana dengan mereka yang tidak sanggup membayar mahalnya biaya pendidikan.
Sebagai ilustrasi, ada mahasiswa S1 baru lulus yang menanyakan ke saya, "boleh nggak saya bekerja dulu selama 1 tahun sebelum mengambil program PPArs, karena saya perlu mengumpulkan uang untuk membayar uang sekolah". Kalau program yang satu tahun saja sudah begitu terasa mahal bagaimana dengan program master yang makan waktu 2 tahun.
Tidak mudah bagi perguruan tinggi untuk bisa membuka program master karena ada persyaratan kualifikasi dosen, minimal doktor, yang harus dipenuhi. Sementara itu untuk membuka program profesi persyaratan tidak sesulit program master.
Kita sekarang dihadapkan dengan kenyataan bahawa ada lebih dari 100 perguruan tinggi di Indonesia yang menyelenggarakan pendidikan arsitektur, yang semuanya patuh dengan aturan 4 tahun pendidikan.  Bagaimana IAI bisa eksis diantara organisasi arsitek dunia lainnya jika pendidikan arsitek arsitek indonesia pada umumnya adalah 4 tahun sementara  ketentuan yang disepakati secara internasional adalah 5 tahun. Siapa yang harus bertanggung jawab terhadap kekurangan ini. IAI sebenarnya tidak dapat masuk dan terlibat kedalam ranah perguruan tinggi ini. Tapi IAI bertanggung jawab secara moral memperkenalkan, membawa dan mengangkat atau minimal memberi jalan arsitek arsitek Indonesia ke dunia internasional.
Mohon tidak melihat program PPArs sebagai program terpenggal dari pendidikan arsitektur secara keseluruhan. Program ini, sampai saat ini, hanyalah salah satu jalan (strategi) untuk dapat memenuhi ketentuan dalam UIA. Jadi program ini tidak dapat secara kurikulum seharusnya tidak terpisahkan dengan program S1. Sistem pendidikan kita masih jauh dari ideal, dapat dibayangkan dari 100 perguruan tinggi penyelenggara program arsitektur yang tersebar di seluruh indonesia siapa yang dapat menjamin bahwa semuanya  mengajarkan arsitektur dengan benar, siapa yang bertanggung jawab ?

salam,
hendrajaya



2010/1/7 david hutama <ginadi@gmail.com>


david hutama to hendrajaya, Ahmad, Steve, Martinus, sandi
show details 22:21 (2 hours ago)

Paling tidak saya terpikir ada dua strategi darurat sambil menunggu
lahirnya UUArs atau kondisi yang lebih ideal.

Pertama, mematangkan program magang dan mengintegrasikan PPArs dengan
penataran strata IAI. Konsekuensinya memang penataran strata tidak
lagi menjadi sekedar presentasi tetapi mempunyai bobot2 tertentu juga
saya menyadari akan banyak kompromi yang terjadi. Jelas studio
perancangan tidak bisa dilakukan :) Namun dengan adanya program matang
yang terstruktur bisa mengisi bagian itu sekaligus kita juga menyicil
sambil perlahan membentuk kondisi yang lebih ideal.

Kedua, walaupun IAI tidak bisa masuk ke ranah pendidikan tetapi
rasanya secara politis IAI bisa memberikan masukan kepada DIKTI
terutama tentang penyusunan kurikulum dan pembobotan mata kuliah. Ini
menjadi mungkin jika kita kaitkan dengan keterikatan kita dengan UIA
yang jelas2 menyatakan bahwa ada sebuah tatanan yang harus kita ikuti
dan tak terpisahkan antara profesi arsitek dan pendidikan arsitektur.

david

Dian Kusumaningtyas

  • Web Author & Editor
  • Newbie
  • *****
  • Posts: 49
  • Karma: +0/-0
Re: Pendidikan Arsitektur - Pendidikan Profesi Arsitektur
« Reply #1 on: January 17, 2010, 02:20:03 am »
Pak Hendrajaya;

Kalau menurut saya 5 tahun. Terdiri dari 4+1 atau 3+2 menurut saya tergantung dari interpretasi mengenai kualitas pendidikan di Indonesia pada umumnya.

Karena di negara2 lain kualitas TK-SMA (sebelum ke universitas) berbeda dengan yg di Indonesia. Kalau tamatan sekolah di Indonesia mau belajar ke luar negeri pada umumnya harus melalui program penyetaraan dulu. Artinya memang ada (mungkin) .. missing link... di program pendidikan kita mulai dari TK sampai PG (Post Grad). Kecuali sekarang ini sudah muncul sekolah yg terakreditasi IB (International Baccaleurat) untuk tingkat SD - SMA. Tamatan sekolah dgn predikat IB ini bisa langsung mendaftar ke universitas2 di negara lain misalnya USA, UK, negara2 EU, Australia tanpa melalui program penyetaraan.

Kembali ke program Internship, analisanya kira2 begini:
1 tahun = 365 hari. Effective working days = 260 hari. Working hours by law = 8 jam/hari.
1 tahun = 260 x 8 jam = 2080 jam

Persyaratan IDP (Intern Development Program) dari NCARB (USA system) = 5600 jam
Jadi, 5600 jam = 5600/2080 = 2.69 tahun

Program NCARB - IDP =

Training Requirements                                           Minimum Training Hours
    Design and Construction Documents   2,800
        Programming                                                                80
        Site and Environmental Analysis                                   80
        Schematic Design                                                        120
        Engineering Systems Coordination                              120
        Building Cost Analysis                                                    80
        Code Research                                                             120
        Design Development                                                    320
        Construction Documents                                           1,080
        Specifications and Material Research                            120
        Document Checking and Coordination                            80
        Elective Hours                                                               600
   
    Construction Contract Administration   560
        Bidding and Contract Negotiation                                   80
        Construction Phase – Office                                          120
        Construction Phase – Observation                                120
        Elective Hours                                                                240
   
    Management   280
        Project Management                                                      120
        Office Management                                                          80
        Elective Hours                                                                  80
   
    Related Activities   80
        Professional and Community Service                               80
        Other Related Activities                                                     0
   
    Elective hours from any category                                   1,880
    (including supplementary education hours)
Total Hours Required                                                      5,600

Total major working hours                           2800 jam
Elective per subtraining category                   920 jam
Elective from any category                           1880 jam

Program ini juga mensyaratkan logbook. Permasalahannya di Indonesia adalah bagaimana mendisiplinkan program ini supaya bisa menghasilkan arsitek dengan kualitas professional yang bertanggung jawab. Disiplin kata kuncinya. Sulit sekali mendapatkan disiplin yang konsisten.

Kalau program magang hanya disyaratkan dilengkapi dengan: Selembar surat pernyataan sudah magang; maka semua 'fresh grad' bisa mendapatkan surat itu tanpa mengikuti program magang sama sekali.

Jadi dibutuhkan mekanisme yg menjamin program ini professional. Karena disiplin dan konsistensi kedisiplinan adalah kasus nasional dalam segala bidang. Jadi harus dipikirkan cara agar bisa dijamin profesionalismnya. Misalnya dengan Logbook. Logbook ini harus merupakan lembaran demi lembaran yang harus ditandatangani penerima program magang dan peserta magang. Analisanya sbb:
1 lembar laporan perhari. Program magang 2800 jam = 2800/8 = 350 hari.
Jadi 350 lembar laporan logbook yg harus ditandatangani.

Format logbook harus disiapkan dengan baik. Tidak menyulitkan tapi juga tidak menggampangkan tapi harus menjamin profesionalism.

Program2 Elective itu biasanya diisi dengan program Continuing Professional Education dari Institute Architectnya atau Institute2 lain terkait (Interior, Green Building, landscape, Structure, MEP dll). Karenanya Institute Architect harus betul2 hati2 dalam mengeluarkan program PKBnya karena bertanggung jawab terhadap: 2800 jam program profesi. Memang sangat mungkin bisa dibagi kepada institusi lain; tapi tetap harus dibawah payung institusi arsitek.

Pastinya ada cara2 utk mengakali ini supaya lebih singkat. Misalnya sehari kerja 10jam atau ikut seminar institute yg bernilai 10jam pada saat jam kantor  dan kantor bersedia tdtgn kerja 1 hari + sertifikat Institute juga dapat dgn nilai 10jam... dstnya. Tetapi tetap tidak terlalu sulit juga tidak terlalu gampang dilalui. Plus lagi ada Openbook Exam.... untuk pengambilan Registered Architectnya.

Kira2 begitu pak. Saya sedang menyusunkan program PKB - IAI. Mudah2an segera selesai supaya bisa dipakai untuk bahan diskusi di sana.

Salam
Dian


« Last Edit: January 17, 2010, 02:38:36 am by Dian Kusumaningtyas »

 

anything