Author Topic: SELAMATKAN KADATON SULTAN TERNATE  (Read 4895 times)

maulana

  • Pengurus IAI
  • Newbie
  • *****
  • Posts: 4
  • Karma: +0/-0
SELAMATKAN KADATON SULTAN TERNATE
« on: July 31, 2011, 03:23:52 pm »
Sebagaimana diberitakan pada harian lokal (Malut Post edisi Selasa 12 Juli 2011) tentang acara peletakan batu pertama pembangunan Museum Kraton Kesultanan Ternate yag dilakukan pada Senin 11 Juli 2011, oleh Walikota dan Sultan Ternate, saya selanjutnya mencoba menghubungi beberapa teman untuk mendapatkan gambar desain museum tersebut.


Dari foto Gambar Kerja yang saya peroleh dan foto-foto kondisi / lokasi pembangunannya (23 Juli 2011), ada beberapa pertanyaan yang mengganjal di hati saya (sebagai peneliti dan pengajar Arsitektur), antara lain ;


Atas dasar apa lokasi museum baru dibangun tepat di samping Kadaton Sultan Ternate?
Kadaton Sultan Ternate selain sebagai simbol Adat dan Budaya Ternate dan Maluku, juga sudah ditetapkan ole pemerintah sebagai Cagar Budaya, bahkan, pada tahun 1981 sudah dinyatakan (dan diresmikan) sebagai MUSEUM MEMORIAL KESULTANAN TERNATE oleh Mendikbud saat itu, Dr. Daoed Djoesoef. (menjadi aset negara untuk dimanfaatkan publik) Sehingga, untuk membangun museum baru/museum tambahan di lokasi tersebut, apakah pemerintah Kota Ternate sudah ada konsultasi detail dengan pihak yang berwenang  (Dirjen Sejarah dan Purbakala, Kemenbudpar) ? Ketika saya menghubungi Kepala Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Ternate untuk konfirmasi hal ini, beliau langsung menjawab bahwa pihaknya tidak tahu menahu tentang pembangunan museum ini.


Desain Museum yang Belum Kontekstual
Mencermati gambar kerja Museum Baru tersebut, dari gambar Denah diketahui bahwa  gedung ini terdiri atas 2 lantai dengan peruntukan lantai dasar untuk ruang pamer dan toko souvenir sementara lantai dua untuk Ruang Staf, ruang penyimpanan khusus dan Ruang Khusus Sultan. Jika Keterangan Kadis Budpar Kota Ternate yang menyatakan bahwa museum ini berfungsi untuk menyimpan koleksi yang yang masih ada di dalam Kadaton dan yang masih tercecer di luar, mengapa peruntukan ruang untuk ruang pamer hanya sedemikian kecil dari total luas lantai gedung ? Apakah cukup?


Dari gambar Tampak, diketahui bahwa desainnya masih belum bisa menyesuaikan dengan konteks Kadaton yang tepat berada di sampingnya. Padahal dengan pendekatan kontekstualisme, ketika bangunan baru dibangun bersanding dengan bangunan tua, banyak hal yang dapat dilakukan oleh arsitek melalui desainnya, untuk menghargai lingkungan, menghormati dan menghargai jiwa dan karakter kawasan setempat. Sebagaimana ditulis  Brent C Brolin dalam bukunya Architecture in Context (1980) menjelaskan, kontekstualisme adalah kemungkinan perluasan bangunan dan keinginan mengaitkan bangunan baru dengan lingkungan sekitarnya.


Apa yang harus dilakukan ?
Beberapa hal yang dapat dilakukan saat ini untuk menyelamatkan kawasan Kadaton adalah meminta kepada Pemerintah Kota agar segera mereview desain yang ada, dengan mengajak pihak-pihak yang berkompeten seperti Akademisi (Arsitektur, Sejarah, Arkeologi) dan Praktisi Profesional (Ikatan Arsitek Indonesia, Arkeolog, Sejarawan, Sosiolog).
Tindakan ini harus segera dilakukan, saat ini juga, mumpung pekerjaan konstruksi di lapangan baru memasuki minggu ke-3.

Pembangunan Museum oleh Pemerontah Kota perlu mendapat apresiasi tinggi dan dukungan penuh, tentu saja dengan cara-cara teknis (termasuk Desain) yang benar pula.Semua upaya ini saya usulkan dengan niat tulus dan maksud baik demi menjaga Kelestarian Pusaka (heritage) Ternate, dengan cara-cara yang terbaik.

Upaya melalui Petisi online sedang dibuat untuk meminta dukungan masyarakat agar Pemerintah segera mereview desain dan mengambil beberapa langkah perbaikan. Saya memohon dukungan dan bantuan pembaca sekalian untuk mengisi petisi tersebut, karena hasilnya akan dicetak/print untuk dikirimkan ke Pemerintah Kota Ternate, semata-mata sebagai kepedulian murni terhadap pelestarian pusaka Ternate.
Petisi online bisa diisi disini > http://www.petition.co.uk/selamatkan-kadaton-sultan-ternate/

Selamatkan Kawasan Kadaton Sultan Ternate,
Selamatkan Pusaka Indonesia !!



novriko

  • Forum Administrator
  • Sr. Member
  • *****
  • Posts: 335
  • Karma: +3/-0
  • Admin Web
Re: SELAMATKAN KADATON SULTAN TERNATE
« Reply #1 on: August 03, 2011, 02:52:52 pm »
Seperti yang sudah saya sampaikan juga di halaman petisi (hm... tapi kok belum nongol ya pendapat saya di sana?), IAI Maluku Utara bisa mengambil tindakan tegas dengan memanggil sang Arsitek untuk melakukan presentasi desain dihadapan publik.

Jika terbukti ada pelanggaran peraturan dan undang-undang yang disengaja, maka dapat diajukan pencabutan SKA Arsitek sang Arsitek ke Dewan Keprofesian Arsitek.

Jika sang arsitek ternyata bukan anggota IAI dan tidak ber-SKA, berarti kasusnya akan bertambah parah.
Tuntutan dapat bergulir ke banyak arah.
Jenius adalah 1 % inspirasi dan 99 % keringat. Thomas A. Edison
Forum khusus pengurus | Alamat Sekretariat IAI

maulana

  • Pengurus IAI
  • Newbie
  • *****
  • Posts: 4
  • Karma: +0/-0
Re: SELAMATKAN KADATON SULTAN TERNATE
« Reply #2 on: January 10, 2013, 10:35:36 am »
Terimakasih atas tanggapannya Pak Novriko,  :)

Sekedar info update kasus ini:
Petisi tersebut sudah saya kirimkan langsung ke Walikota Ternate, Gubernur Maluku Utara, cc.Dir Permuseuman, Ditjen Sejarah dan Purbakala KeMenBudPar (di Waktu itu, Agustus 2011). Dan tidak mendapat tanggapan apa2.
Saya sudah mengkonfirmasikan kasus ini ke Direktorat Permuseuman dan Pelestarian, KemenDikBud pada Desember 2012, dan ternyata mereka tidak tahu menahu soal ini. (Karena ini pekerjaan berbasis APBD Kota Ternate)


Maaf saya baru sempat membalas kembali di forum ini
Peristiwa ini terjadi ketika saya sedang tidak berada di Ternate, sehingga saya hanya membuat PETISI ONLINE saja dan menelpon Ketua IAI Maluku Utara. jawabannya, mereka tidak tahu menahu soal Arsitek proyek tersebut.

Pada kesempatan 2012 lalu, ketika saya sedang Riset lapangan di Ternate, saya baru mengetahui bahwa Arsitek proyek Museum ini tidak terdaftar di IAI MALUKU UTARA (bukan anggota IAI MALUKU UTARA), bahkan beberapa pengurus IAI MALUKU UTARA juga tidak mengenalnya (Arsitek tsb berasal dari luar Maluku Utara).


Kasus sudah terjadi, bangunannya pun sudah berdiri (meskipun belum rampung, karena masih sekitar 50-60% ketika saya di Ternate, Desember lalu -tahun ke-2 Proyek Museum/dibiayai oleh APBD 2011 & 2012, dan sepertinya akan lanjut pada tahun ke-3, APBD 2013, karena gedungnya belum rampung). Nah, yang menjadi pelajaran -menurut saya- dalam kasus ini adalah:

1. Desain yang tidak kontekstual disebabkan oleh banyak Faktor, salah satunya adalah oleh si Arsitek yang tidak paham betul kondisi lokasi/site, dan sejarah serta  Budaya masyarakat setempat.
2. Arsitek tidaklah bisa bekerja sendiri dalam perencanaan dan Desain apalagi untuk bangunan yang bersingungan dengan Cagar Budaya.

Pertanyaan dan bahan diskusi selanjutnya adalah:
1. Bagaimana kelanjutan kasus ini jika si Arsitek tidak terdaftar di daerah dimana dia bekerja, bahkan tidak berdomisili TETAP di daerah tempat bekerjanya ?
2. Bagaimana IAI Daerah (mudah-mudahan tidak terjadi di Daerah lain) menyikapi hal seperti ini (aspek Keprofesian, Profesional, Pendidikan & Pelestarian Arsitektur?)

Rekan-rekan sekalian, kita bisa banyak belajar dari kasus ini, harapan saya agar kasus2 seperti ini sebaiknya dibahas khusus di RAKERNAS, agar jangan sampai terulang di daerah-daerah lain.

Salam Arsitek,
Maulana Ibrahim
maulanarch@gmail.com
(sdg belajar di Osaka)

erwinmaya

  • Newbie
  • *
  • Posts: 20
  • Karma: +0/-0
Re: SELAMATKAN KADATON SULTAN TERNATE
« Reply #3 on: July 17, 2014, 10:15:19 am »
itu peran pemerintah daerahnya kemana ya  :-\
Cari Supplier Geo Textile Terpercaya di Jakarta? Hiloninside Saja, kunjungi websitenya www.hiloninside.com