Author Topic: Pendidikan Arsitektur - Keselamatan Manusia dalam gedung  (Read 8995 times)

Dian Kusumaningtyas

  • Web Author & Editor
  • Newbie
  • *****
  • Posts: 49
  • Karma: +0/-0
Pendidikan Arsitektur - Keselamatan Manusia dalam gedung
« on: July 04, 2009, 03:04:41 am »
Tulisan ini hanya suatu pengamatan pribadi.

Pendidikan umum di Indonesia dimulai dari TK sampai SMA/Sekolah Kejuruan. Lalu masuk ke program2 D1-3 atau Universitas. Semuanya sesuai dengan yang sudah ditentukan oleh Departemen Pendidikan.

Menurut pendapat saya permasalahan muncul karena dalam pekerjaan Arsitek di tuntut sesuatu yang tidak disediakan oleh Pendidikan Arsitektur. Pendidikan Arsitektur sendiri bukannya tidak bisa menyediakan tuntutan tersebut - menurut saya- tetapi terbentur dengan peraturan dan generalisasi yang dilakukan -dengan terpaksa dan tidak terpaksa- oleh Departemen Pendidikan atas nama keseragaman kualitas.

Jelas ini menjadi sangat dilematis; karena dalam profesinya banyak tuntutan spesifik yang harus dipenuhi tidak bisa disediakan oleh kurikulum. Pada akhirnya kalimat 'cliche' yang muncul adalah 'lulusan tidak siap pakai'. Kesulitannya hal ini tidak bisa dijembatani oleh fakultas2 arsitektur itu sendiri karena terbentur dengan Departemennya. Akibatnya jurang antara sekolah dan praktek menjadi melebar dan melebar.

Bagaimana dengan profesi spesifik lainnya. Misalnya dokter. Bagaimana hubungan antara pendidikan dan profesinya? Sepertinya mereka lebih ter-regulasi dibandingkan dengan Arsitek. Barangkali karena ada kaitannya dengan pertanggung jawaban nyawa manusia. Sehingga mereka lebih cepat memperbaiki dan mengembangkan sistemnya dibanding dengan Arsitek yang katanya -setengah engineer setengah seniman-. Ini menurut saya jelas bermasalah. Karena Arsitek itu apapun juga sebutannya mempunyai tanggung jawab terhadap nyawa. Hal ini menurut saya; sangat kurang sekali diajarkan dan ditanamkan kepada murid2 sekolah arsitektur.

Pemahaman mengenai keselamatan manusia didalam gedung tidak dianggap sebagai suatu pengetahuan dan pemahaman dasar sebagai arsitek yang bertanggung jawab. Hrus diajarkan dan ditanamkan bentuk gedung seperti apapun juga tetap harus direncanakan keselamatan manusia pemakai gedung. Hal ini harus ditanamkan disekolah dan harus di ulang lagi dalam pendidikan profesi. Seminar2 dalam hal keselamatan manusia harus dilakukan terus menerus (berkala) dan diperbaharui/ disesuaikan dengan perlatan baru ataupun peraturan baru secara berkala oleh Ikatan profesi bekerja sama dengan instansi ataupun lembaga ataupun konsultan2 terkait. Misalnya; fire brigade (dinas ..... ); konsultan2 M/E, asuransi kebakaran gedung dll.

Menurut saya pendidikan arsitektur di Indonesia; sangat ber titik berat pada kemampuan menggambar. Hal ini bukannya tidak penting; tapi bukan hal yang paling penting. Karena pada akhirnya; cara berfikir/pola berfikir (way of thinking and pattern of thinking) akan sangat menentukan kemampuan penciptaan (creation/creativity) dari seorang arsitek. Bagaimana caranya membentuk pola berfikir dan apa yang diajarkan oleh sekolah arsitektur di Indonesia dan kenapa menurut saya arsitektur Indonesia kurang berkembang dengan baik; akan saya tulis di serial pendidikan ini dengan sub: Konsep dan Kreasi. Disini saya khusus ingin mendiskusikan masalah: pendidikan dan pengetahuan mengenai keselamatan gedung.

Contoh kasus yang harus dijelaskan:
Banyak kesalahan pengertian mengenai  perhitungan kepadatan (density) dari suatu ruang yang kemudian terkait dengan penghitungan jumlah pintu kebakaran. Dan ini terjadi dimanca negara. Misalnya: Ruang kelas (sekolah/educational building) biasa (bukan laboratorium). Jumlah kursi 80 - jumlah murid  maksimum 80. Luas Ruangan 300m2. Berapa jumlah pintu kebakaran? Parameter mana yang harus dipakai? Jumlah maksimum manusia atau ukuran ruang?. Di beberapa negara peraturan ini rancu. Ada yang menetapkan jumlah manusia ada yang berdasarkan ukuran ruang. Kasus2 terbesar terjadi di negara2 Eropa Timur dan Philipina. Kasusnya kebakaran. Perbedaannya: dibeberapa negara hanya dilihat apakah ukuran ruang cukup untuk jumlah murid. Misalnya 80x1.5m2 (per murid) = 120m2. Berarti ruang cukup leluasa dan jumlah pintu kebakaran dihitung berdasarkan jumlah murid. Masalahnya: dengan tanpa melanggar peraturan; kapasitas kelas bisa ditambah. Jadinya Ukuran ruang 300 m2: 1.5m2 = 200 orang. Jelas jumlah pintu kebakaran yang dibutuhkan sudah menjadi 2xlipat dari yang disediakan. Akibatnya beberapa kali kasus kebakaran sekolah berakibat fatal. Peraturan ini dibanyak negara sekarang sudah diperbaiki. Saya kurang tau bagaimana dengan Indonesia.

Tapi yang saya soroti disini adalah pendidikan. Pendidikan arsitektur harus betul-betul konsentrasi dalam menekankan pengajaran dan pengetahuan untuk keselamatan manusia. Arsitek yang tamat dari sekolah harus fasih dalam ketepatan melakukan perhitungan2 tersebut. Selanjutnya sudah pasti mereka harus mengikuti advance educations/seminar2 profesi untuk pengetahuan lanjutan. Arsitek muda /fresh graduate itu jarang sekali diberikan pekerjaan disain. Dan menjadi sangat menjengkelkan para senior kalau anak2 muda ini tidak bisa dan tidak tahu bagaimana caranya menghitung jumlah tangga kebakaran; menghitung jumlah pintu2 kebakaran; jarak2 aman untuk evakuasi dsbnya. Sehingga muncul kata2 'cliche' lulusan sekolah arsitektur Indonesia tidak siap pakai. Pengetahuan praktis seperti ini wajib di berikan terus menerus dan diuji terus menerus dalam ujian2 sekolah. Pertanggung jawaban tertulis harus dilakukan oleh siswa.

Saya berharap mudah2an IAI bisa memulai pendidikan keselamatan manusia didalam gedung ini dengan lebih serius dan lebih baik lagi. Apalagi kalau IAI bisa mengkoordinasikan seminar2 lanjutan dengan mengikutsertakan instansi2 terkait akan sangat berguna bagi pengembangan profesi dan menurut saya mungkin seharusnya dikaitkan dengan Seminar Strata. Karena di sebagian dunia kita ini (terutama negara maju) sudah muncul yang namanya 'Life Safety Package' (drawings and documents=perhitungan2). Paket gambar ini diajukan sebagai syarat mutlak untuk mendapatkan izin membangun dan paket gambar ini yang sudah di stempel oleh badan pemerintah di pakai sebagai salah satu dokumen untuk asuransi kebakaran gedung.

Ini baru satu hal yang menurut saya 'missing' alias hilang dalam kabut problem pendidikan arsitektur. But please... this is about human life. Please consider it seriously. It is more important than any shape, form or style you want to make... this is about safety, other people safety and maybe your own safety.

stefanus

  • Newbie
  • *
  • Posts: 44
  • Karma: +1/-0
Re: Pendidikan Arsitektur - Keselamatan Manusia dalam gedung
« Reply #1 on: July 10, 2009, 03:55:29 pm »
Buku mengenai keselamatan dan kenyamanan penghuni, sebetulnya pernah di terbitkan oleh Menkimpraswil, tahun 2002.
Tidak hanya mengatur soal akses saat kebakaran (termasuk ukuran trap tangga kebakaran pula) tetapi juga termasuk soal kemnyamanan di dalam gedung. Termasuk pula di dalamnya persyaratan suplai udara segar - ACH (Air Change per Hour).
Juga persyaratan ttg peralatan keselamatan gedung, penanggulagan kebakaran, dll
Sudak lumayan lengkap dan bagus, walau mungkin masih ada kekurangan-2 di sana-sini.
Masalahnya, buku ini sagat jarang terdengar - apalagi penggunaan di dalam Dunia pendidikan.
Seharusnya, buku ini menjadi salah satu buku pegangan, untuk membiasakan mahasiswa arsitek menerapkan standar-2 dalam perancangan gedung - sebelum mereka menjadi arsitek.

adinarch

  • Pengurus IAI
  • Newbie
  • *****
  • Posts: 3
  • Karma: +0/-0
  • Wakil Ketua IAI daerah Kalimantan Barat
Re: Pendidikan Arsitektur - Keselamatan Manusia dalam gedung
« Reply #2 on: July 13, 2009, 04:23:25 am »
Topik yang menarik ditengah carut-marutnya dunia pendidikan, terutama di bidang arsitektur.

Menurut pendapat saya pribadi, kekeliruan terletak pada mind-set masyarakat Indonesia pada umumnya yang masih berpola pikir sederhana.
Segala sesuatu yang berhubungan dengan ilmu atau bidang teknik maunya di buat sesederhana mungkin sehingga gampang di aplikasikan.

Berbeda jika sesuatu tersebut berhubungan dengan politik, birokrasi atau ekonomi. Segalanya harus dibuat serumit dan sedetail mungkin. Bahkan dengan perhitungan strategi yang bisa diprediksikan dengan cepat (quick count)

Banyak contoh kecil yang bisa kita ambil. Tentang Fire Protection misalnya. Persyaratan yang diundangkan dan dipatenkan sudah jelas sesuai dengan tata guna dan fungsi bangunan.  Namun kejadian dilapangan seringkali jauh dari kriteria 'aman'.
Penggunaan sprinkler adalah contoh paling sederhana, jaringannya dibuat sudah baik, bahkan materialnya sudah ber-standar Internasional, namun sayangnya media/air-nya nggak disiapkan dengan sama baiknya. Reservoar dibuat kecil, atau malah di gabung dengan jaringan air bersih ketoilet-alasannya demi efisiensi yang notabene 'menyederhanakan' fungsi fire protection tersebut ("kebakarannya nggak tiap hari mas" begitu kata si owner.).

Kalau sudah begini, Arsitek jadi serba salah. Disatu sisi mengakomodir kepentingan owner, disisi yang lain: merekayasa (menyederhanakan) ilmu yang telah dipelajarinya.

Mungkin begitulah keadaan di negara kita tercinta ini yang (katanya) sedang giat-giatnya membangun.
adin a dinawan, IAI.

yphs_mst

  • Guest
Re: Pendidikan Arsitektur - Keselamatan Manusia dalam gedung
« Reply #3 on: July 13, 2009, 10:16:05 am »
BTW di Indonesia ada hukum yang mengatur (atau parameter/spesifikasi) dari sebuah benda terhadap tingkat mudahnya benda itu untuk terbakar?? Kaya fire safety rating gitu?

Quote
Menurut pendapat saya pribadi, kekeliruan terletak pada mind-set masyarakat Indonesia pada umumnya yang masih berpola pikir sederhana.
Segala sesuatu yang berhubungan dengan ilmu atau bidang teknik maunya di buat sesederhana mungkin sehingga gampang di aplikasikan.

Agree!

stefanus

  • Newbie
  • *
  • Posts: 44
  • Karma: +1/-0
Re: Pendidikan Arsitektur - Keselamatan Manusia dalam gedung
« Reply #4 on: July 13, 2009, 05:18:16 pm »
di buku yg saya maksudkan di atas, ada tertera cukup lengkap..
mungkin memang masih kalah kalo dibanding Underwriter Laboratory punya ya...
tapi paling tidak sudah ada tingkat-2 atau klasifikasi bangunan - yang wajib memiliki persyaratan terhadap bahaya kebakaran - sesuai fungsi, dan lokasi.
@Adi : memang cukup rumit posisi arsitek.. dan dalam perkara yang dimaksud bapak, kita juga tidak "di back up" oleh aturan-2 yang sudah ada, tetapi dalam pelaksanaan "negotiable".
Segala persyaratan - seandainya lolos dari persyaratan IMB (yang memang kurang detil) - seharusnya tidak lolos untuk Ijin Layak Huni (ini istilah di Surabaya - di Jakarta, kemarin saya baca ada juga aturan sejenis, lupa namanya).
Artinya, bangunan tersebut, walau selesai, walau tampak necis, tidak dengan sendirinya "layak huni" kalau tidak memenuhi persyaratan - yg salah 1 nya mengenai penanggulangan bahaya kebakaran.
Repotnya, hal ini sering kali dikompromikan.... susah memang.

Dian Kusumaningtyas

  • Web Author & Editor
  • Newbie
  • *****
  • Posts: 49
  • Karma: +0/-0
Re: Pendidikan Arsitektur - Keselamatan Manusia dalam gedung
« Reply #5 on: July 14, 2009, 06:10:54 am »
Terima kasih atas pendapat2 terhadap tulisan saya.

Pengalaman saya dalam situasi yang hampir sama dengan di Indonesia (negara2 sedang berkembang seperti Vietnam, China, negara2 Afrika seperti: Afsel, Tanzania, sampai afrika utara seperti: Algiers, Egypt, lalu Eropa Timur eks Rusia seperti: Kazakhstan dll) juga sama. Pada umumnya inti permasalahan adalah: Korupsi.

Saya bukan ahli politik dan tidak ingin membahas kasus korupsi.

Permasalahan dari Keselamatan Manusia dalam gedung dan Profesi Arsitek yang akan diregulasi adalah: nyawa manusia. Di negara2 maju (USA, EU, Japan dll). Kegagalan/kesalahan perhitungan terhadapat sistem Keselamatan Manusia dapat dikategorikan dalam tindakan 'kriminal'. Dalam kasus yang 'extreme' dapat dikategorikan pada 'pembunuhan berencana'. Dalam situasi demikian: 2 (dua) lembaga yang pasti diperiksa/diperkarakan adalah: 1. Perencana (Arsitek) gedung dan 2. Kontraktor gedung. Dua lembaga ini pasti akan masuk kedalam BAP (istilah hukum Indonesia).

Hal ini otomatis menjadi urusan yang sangat serius dalam profesi arsitek. Arsitek menurut saya harus dan wajib lulus dalam uji pengetahuan mengenai Keselamatan manusia dalam gedung. 

Saya hanya ingin sedikit sharing pengalaman dan cara mengatasi hal2 tersebut menurutpengalam saya, sbb:
Di negara2 dimana tingkat korupsi tinggi; saya c.q kantor saya tidak pernah bersedia merubah:
1. Technical Specifications
2. Gambar
2. Perhitungan2
3. Laporan2/Reports
yang terkait dengan hal ini. Apabila owner meminta perubahan tersebut secara verbal; laporan tertulis kepada atasan (internal memo) harus segera dibuat oleh arsitek penanggung jawab proyek dengan detail permintaan; nama pemohon termasuk tanggal dan cara melakukan permintaan (telephone/sms dll). Apabila permintaan tersebut dapat dibuktikan dalam tulisan (sms bisa di print) harus di lampirkan dalam memo kepada atasan.
Tanpa permintaan tertulis; kantor saya tidak akan membuat surat apapaun. Kalau permintaan tertulis disampaikan; harus dijelaskan posisi anda sebagai perencana; peraturan2 yang ada dinegara itu; dan penolakan secara resmi. Tanpa adanya dokumen penolakan secara resmi; arsitek masih tetap masuk sebagai 'tertuduh' dalam keadaan berkasus.

Kalau perubahan tetap dilakukan oleh: Owner/Kontraktor; tanggung jawab arsitek adalah:melaporkan perubahan yang terjadi dilapangan dengan dokumen: NCR (Non Conformance Report). Tanpa dokumen ini arsitek juga masih masuk dalam kategori tertuduh karena; didalam kontrak2 kerja dikenal yang disebut: Author Supervisions. Dalam melakukan Author Supervisions ini: Arsitek wajib memperhatikan hal2 yang tidak diselesaikan sesuai dengan kontrak terutama dalam hal2 mengenai keselamatan manusia. Apalagi Author Supervisions tercatat (artinya resmi di lakukan dan dicatat semua pihak sebagai bagian dari pemenuhan tugas dan kewajiban yang tercantum dalam kontrak).

Kalau sudah terlanjur terjebak di situasi sedemikian rupa; saran saya... jangan pernah menanda tangani dokumen2:
1. Serah terima gedung
2. Izin penggunaan bangunan/sertifikat layak huni
Baik sebagai saksi ataupun posisi lainnya.

Otomatis hal ini akan menimbulkan masalah antara arsitek dan clientnya. Tapi percayalah... kalau owner anda bisa melakukan perubahan2 ilegal terhadap keselamatan manusia maka dia juga bisa mengurus dan membereskan surat2 diatas tanpa tanda tangan anda sebagai arsitek. Jelaskan saja dengan sopan dan tegas mengenai dokumen2 NCR dll yang akan berakibat fatal seumur hidup bagi anda (sertifikat profesi -dinegara2 maju- bisa dicabut untuk seumur hidup -extreme case- atau minimal dibekukansementara selama kasus diperiksa; kalau anda terlibat kasus keselamatan manusia didalam gedung) dan mintalah client anda untuk menyelesaikan kasus tersebut tanpa melibatkan anda/kantor anda lagi.

Masalahnya di Indonesia mungkin tidak seketat keadaan diatas pada saat ini. Ada idiom yang beredar bahwa jumlah penduduk Indonesia yang 230 juta itu memang kebanyakan.. jadi apalah arti satu atau beberapa nyawa hilang karena kecelakaan didalam gedung. Menurut saya ini adalah pendapat yang sangat tidak berperikemanusiaan.

Pilihannya ada ditangan kita masing2. Untuk saya pribadi; I am pro Humanity. Architecture to enhanced the quality of human life. Not to lower it. Your choice....

salam
Dian





 

stefanus

  • Newbie
  • *
  • Posts: 44
  • Karma: +1/-0
Re: Pendidikan Arsitektur - Keselamatan Manusia dalam gedung
« Reply #6 on: July 18, 2009, 08:38:52 pm »
terima kasih bu Dian.. sangat berharga pengalaman yang anda share ke kita..
problem terbesar memang owner yang merasa "berkuasa", entah karena memang mereka pemilik dana, "merasa lebih sukses" (secara eksplisit - mnrt mrk = "lebih pintar" - sok pintar) , entah karena "merasa telah membayar" jasa kita, atau entah apalah..
selama ini yang coba saya praktekkan - juga harap respon rekan lain, yang lebih tahu - adalah owner wajib memberikan perintah perubahan tertulis, bertanda-tangan; form yang saya pakai, format dari CSI, dimana terdapat kolom komentar arsitek - termasuk setuju atau tidak. Sekalipun di Indonesia ada institusi Pengawas (dari pemerintah) - tetapi saya belum pernah mendengar mereka memiliki peran signifikan - jika terjadi suatu kasus. Misal, minggu lalu terjadi lagi sebuah mobil terjun bebas, setelah menabrak parapet gedung parkir.
Memang, masih sangat banyak yang perlu di tata dalam sistem perencanaan - pelaksanaan - pengawasan di Indonesia, terkait peran dan tanggung jawab arsitek.

Dian Kusumaningtyas

  • Web Author & Editor
  • Newbie
  • *****
  • Posts: 49
  • Karma: +0/-0
Re: Pendidikan Arsitektur - Keselamatan Manusia dalam gedung
« Reply #7 on: July 19, 2009, 10:52:49 am »
Wah... koq ada kecelakaan mobil nabrak parapet lagi ya... Saya dulu dengar terjadi di ITC M2 lalu di WTC M2 lalu di Plaza Semanggi lalu di Grand Indonesia. Tapi; ini semua saya terima sebagi berita antar arsitek yang artinya tidak diverifikasi. Kebenarannya saya kurang tau karena saya tidak tinggal di Indo. Yang terjadi minggu lalu dimana pak Stefanus?

Hanya kalau sudah terjadi berkali2 artinya ada pihak yang:
  1. arsitek 'keras kepala' tapi tidak mengerti teknis; yang artinya tetap menggambarkan parapet dengan cara2  dan dokumen2 yang secara teknis salah.
  2. arsitek yang tidak mengerti sama sekali persyaratan teknis penggambaran parapet parkir yang aman
  3. arsitek yang ingin mengurangi biaya dan mengabaikan keselamatan manusia
  4. arsitek yang korup dan berkolaborasi dengan pengawas lapangan dan kontraktor yang korup dan menanadatangani dokumen2 lapangan yang salah.

Barangkali yang perlu diperhatikan oleh perusahaan2 arsitektur di Indonesia (terutama yang besar) adalah untuk memulai mempunyai team yang disebut: Architect Project Manager yang terpisah dari team Disainer. Di negara2 yang sudah maju para Architect PM ini pada umumnya adalah Architect yg mengantongi certificate2 seperti: CSI, LEED AP, Cert.CM, QS dll. Di organisasi yg lebih besar lagi biasanya plus: Contract Manager/Administrator. Umumnya sih... mereka yang berhadapan dengan client dan contractor. Di Indonesia saya belum pernah tau ada yg punya orang2 dengan klasifikasi seperti itu. Karena pada umumnya perusahaan arsitektur masih berfikir bahwa mereka hanya perlu ahli gambar atau ahli disain; Contract administrator saja pada umumnya tidak punya. Karena pada umumnya -ini pengamatan pribadi yang mungkin salah- Arsitek di Indonesia itu tidak mau dan tidak perduli dengan ketentuan2 teknis dan pada umumnya beranggapan hal itu tidak penting. Jadi untuk mengatasi hal ini (karena arsiteknya cuma mau menggambar bentuk) sebaiknya semua perusahaan arsitektur punya Arsitek Project Manager.

Kalau pak Stefanus sudah menggunakan dokumen CSI untuk mengkontrol situasi di proyek sangat bagus. Mungkin yang harus di sharing adalah sbb:
  a. Dokumen2 apapun (berbasis CSI/AIA atau yg lainnya) yang gunanya untuk pengawasan pelaksanaan proyek harus di tunjukkan/diberikan kepada client/PM dll pihak terkait di proyek pada saat proyek dimulai (kick-off meeting) dan harus di dapat persetujuan bersama yang tercatat (Minutes of Meeting). Hal ini penting untuk menentukan kedudukan dokumen2 tersebut secara hukum. Karena tidak dikenal/ditemui adanya dokumen yang secara nasional diakui dan disahkan oleh Hukum Negara RI.
  b. Pada kasus2 dimana client/PM tidak bersedia menggunakan dokumen2 tersebut; harus dimintakan cara/dokumen yg berlaku untuk persetujuan2 didalam proyek.
  c. Minutes of Meetings adalah dokumen hukum. Arsitek wajib mempunyai copy atau membuat/menulis/menjadi author dari MoM pada setiap meeting apabila ini termasuk dalam scope of works.
  d. Kalau ada PM yg ditunjuk; pada setiap MoM catatlah semua hasil Meeting untuk catatan anda dan kantor anda pribadi. Hal ini banyak sekali gunanya.

Tanpa menyebut nama - serang pemenang Pritzker Award - yang dituntut karena kasus kecelakaan di didalam gedung berhasil membersihkan dan menyelamatkan namanya dari catatan pribadi (item d) diatas. Kasus nya sudah lama terjadi (sekitar tahun 1994/5) dimana kantor nya di periksa oleh lembaga hukum pemerintah (kejaksaan dan kepolisian) dan dokumen2 proyek tersebut di sita. Arsitek tersebut terselamatkan oleh catatan2 yg terdapat di-agendanya. Saat ini juga sedang ada kasus yg menimpa seorang arsitek pemenang Pritzker Award mengenai kebakaran kecil yang terjadi di gedungnya. Dimana sistem penghawaan di Tangga Kebakaran ternyata tidak bekerja dan asap sempat memenuhi tangga kebakaran. Untungnya tidak terjadi kecelakaan apapun. Tapi tetap semua pihak terkait dengan perencanaan dan pembangunan gedung diperiksa. Berdasarkan dokumen yg ada; dia tidak menandatangani dokumen 'layak huni' karena belum dilakukan test sistem penghawaan pada semua tangga kebakaran. Dan hal ini tidak tercatat di Minutes resmi; tapi tercatat di PDA beliau yang sudah disita pengadilan.

Semua ini memang belum pernah menjadi hal yang serius di Indonesia. Karena tatahukum yang ada tidak memberlakukan arsitek sebagai lembaga/individu yang mempunyai kekuatan hukum. Tapi hal ini perlu segera diketahui dan diperbaiki karena dengan munculnya UUProfesi semua profesi di Indonesia setau saya akan mempunyai hak dan tanggung jawab hukum. Seperti apa bentuknya; kita tunggu saja.

Intinya saya setuju dengan pernyataan p'Stefanus;   Memang, masih sangat banyak yang perlu di tata dalam sistem perencanaan - pelaksanaan - pengawasan di Indonesia, terkait peran dan tanggung jawab arsitek.

I wonder....



kahlu4

  • Newbie
  • *
  • Posts: 8
  • Karma: +0/-0
Re: Pendidikan Arsitektur - Keselamatan Manusia dalam gedung
« Reply #8 on: August 02, 2010, 11:18:46 pm »
Mungkin arsitek Indonesia perlu sebuah zoning board atau building investigator, tidak hanya menandatangani sebuah kertas 'layak huni'. Di Boston, semua harus menaati zoning board jika ingin membangun atau merenovasi gedung. Saya tidak pernah melihat adanya organisasi tersebut di Indonesia sehingga pemandangan pemukiman kumuh disebelah mall-mall mewah seperti santapan setiap hari. Orang berduit membangun seenaknya tanpa sadar bahwa mereka menimbulkan kecemburuan sosial diantara masyarakat. Daripada merencana ulang sistem perencanan dan pengawasan, lebih baik langsung ke akar masalahnya karena sepertinya bukan hanya sistem pengawasan arsitek yang bermasalah, tetapi semua sistem pengawasan di indonesia.

Berdasarkan pengalaman bekerja di sebuah perusahaan arsitektur di indonesia, arsitek indonesia terlalu menuruti klien. Mereka bersikukuh menciptakan sebuah kemegahan dalam sebuah rendering, tanpa berpikir bagaimana orang akan menggunakan sebuah space. Tidak ada harmoni antara design dan struktur. Yang dipikirkan hanya apa mau klien, padahal klien tidak mengerti kompleksitas design dan bahaya tidak adanya cukup fire exit. Ini adalah dampak tidak adanya sebuah yang mengatur khusus apa yang boleh dibangun dan apa yang tidak boleh dibangun.

Saya dipaksa membuat sebuah community center dimana hanya terdapat 1 pintu masuk. Saya bersikukuh bahwa itu berbahaya, tetapi atasan saya juga bersikukuh bahwa klien tidak menginginkan gedung kebanyakan pintu. Akhirnya, saya hanya menggambar mengikuti kemauan atasan saya. Tidak ada lagi pikiran untuk mendesign, yang ada hanyalah bekerja seperti robot.

Yang ada dipikirkan saya, hanya sistem pendidikan indonesia yang buruk. Murid hanya mencatat apa yang ada di papan tanpa bertanya apa yang mereka catat. Dan karena mereka terus seperti ini dari TK sampa Universitas, mereka juga seperti itu di tempat kerja. Terlalu di kontrolnya pendidikan oleh departemen pendidikan mengakibatkan ceteknya conscience mereka dalam bekerja. Tidak dapat dibilang salah juga karena mereka hanya mengikuti perintah guru (atasan).
« Last Edit: August 02, 2010, 11:21:37 pm by kahlu4 »

stefanus

  • Newbie
  • *
  • Posts: 44
  • Karma: +1/-0
Re: Pendidikan Arsitektur - Keselamatan Manusia dalam gedung
« Reply #9 on: August 27, 2010, 01:47:22 pm »
saya tidak mengingkari, kalau ada arsitek di indonesia yg "yes man"... yg cuma menuruti keinginan klien.
hal ini tidak terlepas dari situasi yg tidak kondusif di indonesia, dimana kedudukan seorang arsitek sangat lemah di mata klien; kalau perlu panggil, beri tugas, bayar (dg menawar habis-2 an).. kalau nggak perlu, tinggal tendang saja, beres, toh nggak akan nuntut...
mau menuntut klien soal aturan kontrak & fee, sangat sulit; di sini, pameo "hilang ayam kalau dilaporkan malah hilang kambingnya, hilang kambing kalau dilaporkan malah hilang sapi nya" masih sering terjadi...
karena itu si arsitek akan berpikir seribu kali melakukan legal action, karena yang dihadapi (klien) jelas-2 lebih "kuat" - baik finansial, maupun jaringan - alias koneksi. Akhir kata = seperti telur membentur batu.


Memang perlu sikap, integritas dan pengalaman dalam menghadapi "pemaksaan" tersebut..
Sering kali, kisah berakhir adem ayem.. alias tenang-2, meski terjadi kecelakaan sesuai prediksi, toh semuanya "bisa diatur"...... coba kita lihat saja deh.. akibat hukum kejadian "mobil terjun tanpa parasut" itu bagaimana ??? dua kali lagi....


Saya share pengalaman saya saja, belom lama ini. Dalam proyek yg saya tangani, sebagai CM, ada beberapa spesifikasi yg perlu saya "perbaiki" agar sesuai standar keselamatan - eh si arsitek malah seperti orang bengong - bisa-2 nya dia nanya : "apa perlu sampai begitu ?".... [nb : dia lebih tua dari saya, lebih "sukses" - dlm arti lebih banyak proyek, lebih kaya, meski "no reken" alias EGP dg IAI]


karena sebuah public building yg mengutamakan faktor safety, jelas material saya tentukan (bukan hanya anjurkan) yg sesuai, al soal fire rating; rata-2 minimal 2 jam, dan pintu kebakaran saya tentukan standar ULFM..
termasuk parapet bagi drive way / jalan mobil, sejak 2007 (saat masih dalam tahap perencanaan) saya tentukan harus dibuat dari beton cor bertulang..


realiasi ??? semua material fire rated dicoret -  standar ULFM diganti DKI [permisi, bukan merendahkan, tapi kenyataan standar ULFM lebih ketat] - itupun saya tidak percaya kalau dilakukan dg benar - alias amburadul. ketika diminta menyatakan pertanggungan jawab atas perubahan secara tertulis, dg tenang si owner menandatangan... toh - pikirnya, jk terjadi emang elo (saya) mau apa ???


saya akhirnya mengundurkan diri...
terakhir, dari foto eksisting kiriman teman / mantan staf yg masih di sana, parapet cuma dari batako.... dg perkuatan beton praktis secukupnya...
saya hanya berharap, semoga nggak terjadi "mobil terjun tanpa parasut" di sana...


saya hanya bisa menduga, si owner "yakin" bertindak "nemar" [baca : menghemat] dg perubahan-2 itu.. kalaupun terjadi kemungkinan terburuk, dia yakin bisa "membereskan"...


tapi ada beberapa memang, yang berhasil saya yakinkan, seperti penggunaan profil aluminium tipe curtain wall untuk opening - sesuai dg standar CSI / Masterformat - untuk kekuatan angin kelas 2..
(sesuai catatan BMG di sana).. & seluruh kaca - kecuali cermin di toilet, memakai safety glass...


novriko

  • Forum Administrator
  • Sr. Member
  • *****
  • Posts: 335
  • Karma: +3/-0
  • Admin Web
Re: Pendidikan Arsitektur - Keselamatan Manusia dalam gedung
« Reply #10 on: August 28, 2010, 09:32:59 am »
Ada istilah: "sebenernya semua bisa dibicarakan".

Oleh beberapa pihak, hal ini dipakai untuk maksud yang negatif.
Kenapa tidak kita pakai saja kepercayaan ini untuk maksud yang baik?

Kita tidak bisa menyangkal bahwa walaupun arsitek adalah (seharusnya)   penentu kebijakan dalam perencanaan dan pelaksanaan konstruksi, namun penentu realisasi   konstrusi ada di tangan pihak lain, mis: owner atau CM.

Begini pak,
Ada kalanya, semua orang yang idealis terlalu memaksakan kehendaknya dengan cara yang frontal dan keras, dengan alasan "ngapain takut kalo gue bener?".
Saya mungkin termasuk salah satu orang yang di dalamnya, karena pendidikan dalam keluarga saya juga demikian.
Namun dalam lingkungan pergaulan dan pekerjaan saya, saya belajar dari orang-orang, yang lebih baik dalam mengendalikan emosinya, bahwa pendekatan persuasif selalu berjalan lebih baik dari pada debat argumentasi.

Anggap saja diri anda adalah seorang Duta Idealisme Keprofesian Arsitek.
Jika Sang Duta selalu memberikan pernyataan2 yang terlalu keras, bukankah yang akan terjadi adalah medan perang yang belum tentu menguntungkan dirinya atau idealismenya, bukan?  ;)
Memang ada kalanya kita merasa seperti bicara sama tembok.
Tapi jika kita bisa memahami cara orang berpikir dan latar belakang kebijaksanaannya, kita bisa membuat mereka paham dengan keputusan kita.

Langkah ini tidak pernah dipelajari di sekolah. Kita harus bisa menemukan celahnya sendiri.
Kita tidak bisa terlalu otoriter, jika kita belum mempunyai otoritas.
Jenius adalah 1 % inspirasi dan 99 % keringat. Thomas A. Edison
Forum khusus pengurus | Alamat Sekretariat IAI

stefanus

  • Newbie
  • *
  • Posts: 44
  • Karma: +1/-0
Re: Pendidikan Arsitektur - Keselamatan Manusia dalam gedung
« Reply #11 on: August 28, 2010, 12:19:17 pm »
sebetulnya sasya bukan menolak negoisasi koq... ato toleransi, kalo hal itu masih bisa diterima..
artinya tidak menyimpang total; kalo itu mal, ato hotel di lingkungan kota, tentu persyaratan safety tidak seketat di bandara kan....
problemnya, di bandara akan di periksa institusi dari LN - krn menuju ke internasional - & mrk tidak bisa kompromi soal safety...

saya hanya berusaha, agar jangan "parah-2 amat" gt... krn kalo evaluasi gagal, terminal bandara tsb tidak akab boleh dipakai untuk penerbangan internasional - bahkan bisa-2 yg nasional saja nggak bisa... fatal kan, bagi owner sendiri...
bisa-2 masa BOT selama 20 thn akan terbuang sia-2, & modal yg telah dia keluarkan, akan seperti garam masuk lautan...

itu ertimbangan saya, tapi memang kadang memang ada org yg sangat-2 bebal - owner ybs saya maksud, sehingga tetap nekat...
mungkin dia berpikir, meski yang  meng eval LN mosok nggak bisa di nego..? bgt mungkin mikirnya...

saya pribadi, saat menemui konflik antara kriteria & biaya, biasanya saya akan mencari solusi dari efisiensi sistemik - tanpa mengorbankan kualitas, tapi bisa menghemat biaya... jadi bukan asal down grade gt..
cuma, ada yg kurang "puas" dg penghematan begitu, maunya malah super duper hemat total..
harga termurah yg bisa terbeli... nggak perduli konsekuensinya - entah safety, maintenance, operational cost & estetika..
kalo sudah menghadapi yang begini, ya terpaksa deh.. saya mending mundur...

begitu lah critanya... :)

Dian Kusumaningtyas

  • Web Author & Editor
  • Newbie
  • *****
  • Posts: 49
  • Karma: +0/-0
Re: Pendidikan Arsitektur - Keselamatan Manusia dalam gedung
« Reply #12 on: August 31, 2010, 11:01:20 pm »
Saya semakin miris membaca semua ini. Betul2 Indonesia ini masih dalam kategori 'under develop country'. Dulu saya pikir Indonesia ini sudah masuk ke kategori 'negara sedang berkembang'..... tapi semakin saya banyak keliling ke negara2 yg 'under develop'... semakin saya sadar bahwa Indonesia ini belum sampai ke titik 'negara sedang berkembang'. Menyedihkan.

Di'negara2 yg sedang berkembang' dimana 'niat dan tingkat kesadaran' masyarakat untuk memperbaiki fasilitas lingkungannya menjadi lebih baik itu sudah mencapai titik dimana keselamatan manusia tidak dibahas lagi; dalam arti dilakukan sesuai dengan peraturan dan hukum yang berlaku. Tidak terjadi tawar menawar dalam hal nyawa manusia. Tidak terjadi 'under table money' dalam hal nyawa manusia.... bahkan sudah menjadi suatu keadaan yang 'memalukan' kalau sampai hal itu terjadi.

Hanya di negara yang belum berkembang, yang masih melakukan hal ini. Bagaimana caranya mau maju kalau 'nyawa sesama manusiapun masih dilakukan tawar menawar seperti membeli tahu dipasar'..... menyedihkan sekali dipandang dari sudut manapun juga.

Tapi orang Indonesia, umumnya sangat marah atau merasa terhina kalau dianggap atau diperlakukan - tidak sejajar dengan yg putih/ dianggap tidak lebih bagus dari yg putih / dianggap tidak bisa bekerja dengan baik / dstnya - tapi di dalam negeri sendiri, sesama warga Indonesia tidak menghargai warga lainnya misalnya: dengan menukar keselamatan manusia dengan uang.

Jadi pertanyaan saya, bagaimana caranya orang lain bisa menghargai kita kalau kita tidak bisa menghargai diri kita sendiri dengan baik.


Lalu, apa buktinya... arsitek Indonesia bisa menjadi arsitek yang baik, kalau soal keselamatan umum saja tidak bisa mempertahankan, bahkan sampai ketingkat 'banyak yang tidak tau'.... karena soal ini sangat mendasar dan menjadi basis penilaian 'siapakah anda sebagai arsitek' dinegara yang sudah berkembang.


Jadi...... untuk semua rekan2.... mungkin 'perlu' atau 'tidak perlu' direnungkan sebentar: 'berdiri dipihak manakah anda selama ini? ... your choice, your decision.


Salam
Dian

stefanus

  • Newbie
  • *
  • Posts: 44
  • Karma: +1/-0
Re: Pendidikan Arsitektur - Keselamatan Manusia dalam gedung
« Reply #13 on: September 01, 2010, 02:18:21 am »
soal safety memang belom termasuk prioritas di sini bu Dian... bukan sama sekali - ada, tapi sangat sedikit - mayoritas masih begitu...
situasi saya - yg saya bagikan di atas - msh menjadi dilema koq buat saya;
saya tetap di sana ato mundur, keputusan owner nggak berganti koq...
bedanya mungkin - hanya kalo ada sesuatu "yg tidak diinginkan" itu terjadi, saya tidak bisa dipersalahkan, krn saya sdh memberi warning - bahkan mundur.
tapi jujur, saya jadi bertanya juga dlm diri sendiri, kontribusi saya dimana ?? - dlm arti "memberi kesadaran" kpd owner..
siapa yg tau ? owner juga nggak sadar koq.. bahkan dia menyebut saya sbg org tolol... :(


erwinmaya

  • Newbie
  • *
  • Posts: 20
  • Karma: +0/-0
Re: Pendidikan Arsitektur - Keselamatan Manusia dalam gedung
« Reply #14 on: August 24, 2015, 02:24:25 pm »
soal safety memang belom termasuk prioritas di sini bu Dian... bukan sama sekali - ada, tapi sangat sedikit - mayoritas masih begitu...
situasi saya - yg saya bagikan di atas - msh menjadi dilema koq buat saya;
saya tetap di sana ato mundur, keputusan owner nggak berganti koq...
bedanya mungkin - hanya kalo ada sesuatu "yg tidak diinginkan" itu terjadi, saya tidak bisa dipersalahkan, krn saya sdh memberi warning - bahkan mundur.
tapi jujur, saya jadi bertanya juga dlm diri sendiri, kontribusi saya dimana ?? - dlm arti "memberi kesadaran" kpd owner..
siapa yg tau ? owner juga nggak sadar koq.. bahkan dia menyebut saya sbg org tolol... :(

Yang sabar saja mas kalau dikatain orang to***, sebenarnya dia itu yang nda tau maksud perkataan mas, coba nanti kalo udah terjadi sesuatu baru dia sadar dan menganggap apa yang sudah di sarankan itu benar.
Cari Supplier Geo Textile Terpercaya di Jakarta? Hiloninside Saja, kunjungi websitenya www.hiloninside.com